Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat

Sejarah

Sekilas Sejarah Masjid An-Nuur

Menurut Ketua Dewan Penasihat Masjid An-Nuur Perumahan Permata Timur Kalimalang Jakarta Timur, Dr HM Bhakty Kasry, masjid adalah rumah Allah yang harus diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi para jamaah. Masjid pula sebagai tempat pertama Nabi Muhammad membangun peradaban Islam. Lewat masjid, Nabi memberikan pencerahan kepada umatnya.

Lebih luas dipahami, masjid adalah sentra perubahan sosial masyarakat. Karenanya, masjid hendaknya dipakai untuk berbagai kegiatan keumatan, tidak saja ibadah ritual, melainkan juga ibadah sosial dan pemberdayaan umat, dari segala sisi kehidupannya.

Kecintaan Bhakty terhadap rumah Allah ini, tidak hanya ia wujudkan dalam pemberian sumbangan secara material berupa pembangunan masjid, tapi juga bagaimana memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan keagamaan yang bermanfaat bagi segenap lapisan masyarakat.

Kecintaannya kepada masjid, Bhakty lukiskan dengan simbol simpel dan estetik di rumahnya, ia membangun sebuah kubah menyerupai masjid di atas rumahnya. Bhakty berharap, ketika dirinya masuk rumah sendiri, ia seperti berada dalam masjid sehingga selalu merasa dekat dengan Allah.

Ia juga membangun masjid yang ada di samping kediamannya, yaitu Masjid An-Nuur. Saat itu, masjid itu tempatnya kurang kondusif sebagai tempat ibadah, sehingga masyarakat sekitar enggan beribadah di dalamnya, lantaran letaknya di pinggiran sawah. Karenanya, Bhakty merenovasi total. Apalagi sejak dibangun masjid 15 tahun lalu, baru setahun terakhir ini kegiatan masjid mulai dimakmurkan. “Masjid ini selama 14 tahun tidak pernah dibuat shalat Jum’at, tak ada yang meramaikan, letaknya yang kumuh dan dekat sawah membuat orang malas ke sana. Aku merasa nggak enak melihat ini,” paparnya.

Selain fokus pada pembangunan masjid, Bhakty ikut terlibat aktif pada kegiatan pemberdayaan masjid dan jamaahnya. Ia miris ketika sebagian umat Islam menggunakan masjid sebagai tempat tidur, bukan untuk beribadah. Kondisi ini mengetuk pintu kesadaran Bhakty untuk segera melakukan gerakan pemberdayaan dan revitalisasi peran masjid sebagai sentra ibadah dan perubahan umat Islam.

Gerakan ini ia mulai dari masjid dekat rumahnya, tak jarang Bhakty mengerahkan karyawannya untuk menyelenggarakan shalat Jum’at dan kegiatan pengajian di masjid itu. Pelan tapi pasti, masyarakat mulai banyak yang berdatangan ke masjid untuk ikut kegiatan keagamaan. “Baru tahun ini aku ramaikan kegiatan masjid ini. karena tidak ada jamaahnya. Selama ini tidak ada yang menggerakkan. Akhirnya aku gerakkan, dan itu bisa” tandasnya.

Kini, masjid ini tidak lagi sepi. Pengajian mingguan selalu diadakan, tak jarang para penceramah yang diundang adalah para dai terkenal. Komunikasi sosial dan jalinan silaturrahim terbangun begitu kokoh antarjamaah. Semuanya menuju pada satu tujuan Izzil Islam wal Muslimin. Secara kuantitas, ada peningkatan dari waktu ke waktu jumlah jamaahnya. “Dulu yang jamaah Shubuh hanya beberapa gelintir, sekarang setiap Ahad pagi yang jamaah shubuhnya sudah mencapai tiga shaf,” katanya.

Kini, masjid ini makmur dengan kegiatan syiar Islam. Tak heran jika Walikota Jakarta Timur yang bekerjasama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) menganugerahkan kepada Masjid An-Nuur sebagai masjid nomor dua yang memiliki kemakmuran masjid pada 01 Oktober 2010 lalu. Selamat, semoga Masjid An-Nuur terus makmur….