Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat

Mengingat Allah dengan Selalu Berdzikir

Mengingat Allah dengan Selalu Berdzikir

Oleh: Emil Azman Sulthani

Istilah dzikir berasal dari bahasa Arab dzakara, yadzkuru, dzikran. Artinya menyucikan, memuji, mengingat, menutur, menyebut dan melafalkan Allah. Dalam Al Quran kita dapat menemui kata adzdzikra dalam berbagai bentuk dan ragam makna sebanyak 280 kali. Dzikir dalam istilah bahasa berarti mengingat dan menyebut Allah. Seseorang yang mengingat Allah maka lisannya terus menyebut Allah. Dan hatinya juga terus mengingat Allah. Mengingat gerak hati dan menyebut gerak lisan. Karena itu dzikir bisa dilakukan dengan hati, bisa pula dengan lisan (mengucap). Perpaduan keduanya akan mengantarkan pada makna khusyuk.

Dzikir sebenarnya merupakan inti dari doa yang kita panjatkan sehari-hari. Bahkan amalan yang selalu kita tautkan kepada Zat yang Menggerakkan juga bagian dari dzikir. Karena itu lazim kita temukan pembagian dzikir pada empat bentuk, yaitu dzikir qalbiyah, dzikir ‘aqliyah, dzikir lisaniyah dan dzikir ‘amaliyah.   

Pertama dzikir qalbiyah (hati), yakni dzikir dengan merasakan kehadiran Allah. Mengajak hati untuk meyakini bahwa Allah bersamanya. Sadar dan ingat bahwa Allah selalu menatap, melihat, mendengar dan mengetahui gerak gerik hati. Lintasan pikiran dan pengejawantahan ‘amaliahnya (QS Saba’(34): 3). “ … Tidak ada tersembunyi dari padaNya seberat zarrahpun yang ada di langit dan di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. Dalam terminologi agama dzikir qalbiyah ini lazimnya disebut dengan ihsan.

Kedua dzikir ‘aqliyah (akal), yaitu kemampuan menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak gerik alam. Allah yang menjadi sumber gerak dan yang menggerakkan. Sejatinya kehidupan kita masuk dalam sebuah sistem universal dari Zat yang Menciptakan. Kita berada dalam madrasah Allah, universitas jagad raya yang mencakup langit dan bumi dan terdapat hikmah yang luar biasa bagi orang-orang yang berpikir. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) ortang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali ‘Imran(3): 190-191).

Ketiga dzikir lisaniyah (lisan), yaitu buah dari dzikir hati dan dzikir akal. Lisannya senantiasa berdzikir, menyebut dan mengagungkan Allah. Apa yang ada di hati itulah yang dipikirkan, dan apa yang dipikirkan itulah yang diucapkan. Orang yang berdzikir pasti mempunyai kepribadian yang jujur. Abdullah bin Busr RA berkata, “Ya Rasulullah ajaran-ajaran Islam telah banyak padaku, maka beritahukanlah sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan”, Rasulullah SAW pun menjawab, “Biarkanlah lisanmu terus basah dengan menyebut Allah” (HR Tirmidzi).

Keempat dzikir ‘amaliyah (perbuatan), yaitu menyatukan dzikir hati akal dan lisan dengan keselarasan perbuatan. Orang yang berdzikir itu adalah al muthi’, orang yang taat kepada Allah dan RasulNya. Karena itu orientasi berdzikir adalah melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa kepada Allah. Dan mereka yang bertakwa akan senantiasa mendapat limpahan dari rahmat Allah SWT. Allah berfirman dalam Al Quran, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al A’raaf(7): 96).

Semogalah uraian singkat tentang dzikir ini dapat kita jadikan pegangan kita sebagai umat beriman yang senantiasa ingat kepada Allah SWT, dan dapat menjadi umat yang pandai bersyukur di setiap saat nafas dan nadi kehidupan kita sehari-hari. Dan haruslah dimaknai dan disikapi dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam upaya untuk meningkatkan kualitas iman, Islam dan ihsan kita. Karena dengan hanya tiga pilar inilah kita dapat memperbaiki kualiatas keber-agamaan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jika kesemua pengertian dzikir ini dapat kita lakukan, maka sangat beruntunglah kita sebagai bangsa dengan penduduk Muslim yang terbanyak di dunia ini. Dan mudah-mudahan dapat dicontoh oleh bangsa dan negara lainnya.

Bermohon dan berdoa kita kepada Allah SWT supaya seluruh rakyat dan bangsa Indonesia diberikan kesadaran, hidayah dan taufik dalam melaksanakan dzikirullaah ini dengan dzikir yang sebenar-benarnya. Dan diberi kekuatan untuk mempraktikkannya nanti dalam perspektif kehidupan kesehariannya, serta menjadi contoh dan teladan dalam membangun bangsa dan negara Indonesia yang bahagia di dunia dan di akhirat.  “Ya Allah ya Tuhan kami tolonglah kami untuk selalu ingat kepadaMu dan selalu bersyukur kepadaMu dan selalu memperbaiki ibadah serta mempersembahkan ibadah yang terbaik kepadaMu”. Aamiin yaa mujiibas saailiin. Selalulah menjadi hamba yang berdzikir kepada Allah SWT. Wallaahu a‘lam bishshawaab. []

 

 

Tinggalkan Balasan