Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat

Berita

Mengingat Allah dengan Selalu Berdzikir

Mengingat Allah dengan Selalu Berdzikir

Oleh: Emil Azman Sulthani

Istilah dzikir berasal dari bahasa Arab dzakara, yadzkuru, dzikran. Artinya menyucikan, memuji, mengingat, menutur, menyebut dan melafalkan Allah. Dalam Al Quran kita dapat menemui kata adzdzikra dalam berbagai bentuk dan ragam makna sebanyak 280 kali. Dzikir dalam istilah bahasa berarti mengingat dan menyebut Allah. Seseorang yang mengingat Allah maka lisannya terus menyebut Allah. Dan hatinya juga terus mengingat Allah. Mengingat gerak hati dan menyebut gerak lisan. Karena itu dzikir bisa dilakukan dengan hati, bisa pula dengan lisan (mengucap). Perpaduan keduanya akan mengantarkan pada makna khusyuk.

Dzikir sebenarnya merupakan inti dari doa yang kita panjatkan sehari-hari. Bahkan amalan yang selalu kita tautkan kepada Zat yang Menggerakkan juga bagian dari dzikir. Karena itu lazim kita temukan pembagian dzikir pada empat bentuk, yaitu dzikir qalbiyah, dzikir ‘aqliyah, dzikir lisaniyah dan dzikir ‘amaliyah.   

Pertama dzikir qalbiyah (hati), yakni dzikir dengan merasakan kehadiran Allah. Mengajak hati untuk meyakini bahwa Allah bersamanya. Sadar dan ingat bahwa Allah selalu menatap, melihat, mendengar dan mengetahui gerak gerik hati. Lintasan pikiran dan pengejawantahan ‘amaliahnya (QS Saba’(34): 3). “ … Tidak ada tersembunyi dari padaNya seberat zarrahpun yang ada di langit dan di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. Dalam terminologi agama dzikir qalbiyah ini lazimnya disebut dengan ihsan.

Kedua dzikir ‘aqliyah (akal), yaitu kemampuan menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak gerik alam. Allah yang menjadi sumber gerak dan yang menggerakkan. Sejatinya kehidupan kita masuk dalam sebuah sistem universal dari Zat yang Menciptakan. Kita berada dalam madrasah Allah, universitas jagad raya yang mencakup langit dan bumi dan terdapat hikmah yang luar biasa bagi orang-orang yang berpikir. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) ortang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali ‘Imran(3): 190-191).

Ketiga dzikir lisaniyah (lisan), yaitu buah dari dzikir hati dan dzikir akal. Lisannya senantiasa berdzikir, menyebut dan mengagungkan Allah. Apa yang ada di hati itulah yang dipikirkan, dan apa yang dipikirkan itulah yang diucapkan. Orang yang berdzikir pasti mempunyai kepribadian yang jujur. Abdullah bin Busr RA berkata, “Ya Rasulullah ajaran-ajaran Islam telah banyak padaku, maka beritahukanlah sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan”, Rasulullah SAW pun menjawab, “Biarkanlah lisanmu terus basah dengan menyebut Allah” (HR Tirmidzi).

Keempat dzikir ‘amaliyah (perbuatan), yaitu menyatukan dzikir hati akal dan lisan dengan keselarasan perbuatan. Orang yang berdzikir itu adalah al muthi’, orang yang taat kepada Allah dan RasulNya. Karena itu orientasi berdzikir adalah melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa kepada Allah. Dan mereka yang bertakwa akan senantiasa mendapat limpahan dari rahmat Allah SWT. Allah berfirman dalam Al Quran, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al A’raaf(7): 96).

Semogalah uraian singkat tentang dzikir ini dapat kita jadikan pegangan kita sebagai umat beriman yang senantiasa ingat kepada Allah SWT, dan dapat menjadi umat yang pandai bersyukur di setiap saat nafas dan nadi kehidupan kita sehari-hari. Dan haruslah dimaknai dan disikapi dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam upaya untuk meningkatkan kualitas iman, Islam dan ihsan kita. Karena dengan hanya tiga pilar inilah kita dapat memperbaiki kualiatas keber-agamaan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jika kesemua pengertian dzikir ini dapat kita lakukan, maka sangat beruntunglah kita sebagai bangsa dengan penduduk Muslim yang terbanyak di dunia ini. Dan mudah-mudahan dapat dicontoh oleh bangsa dan negara lainnya.

Bermohon dan berdoa kita kepada Allah SWT supaya seluruh rakyat dan bangsa Indonesia diberikan kesadaran, hidayah dan taufik dalam melaksanakan dzikirullaah ini dengan dzikir yang sebenar-benarnya. Dan diberi kekuatan untuk mempraktikkannya nanti dalam perspektif kehidupan kesehariannya, serta menjadi contoh dan teladan dalam membangun bangsa dan negara Indonesia yang bahagia di dunia dan di akhirat.  “Ya Allah ya Tuhan kami tolonglah kami untuk selalu ingat kepadaMu dan selalu bersyukur kepadaMu dan selalu memperbaiki ibadah serta mempersembahkan ibadah yang terbaik kepadaMu”. Aamiin yaa mujiibas saailiin. Selalulah menjadi hamba yang berdzikir kepada Allah SWT. Wallaahu a‘lam bishshawaab. []

 

 

Dhuha dan Jumatan di Masjid Agung An-Nur Pekanbaru

Dhuha dan Jumatan di Masjid Agung An-Nur Pekanbaru

Hampir 15 tahun program mengunjungi masjid-masjid telah dilakukan oleh Dewan Pembina DKM An-Nuur Permata Timur, HM. Bhakty Kasry bersama rombongan mulai dari Sabang hingga Merauke. Setiap kunjungan ke kota-kota di Nusantara ini, tak luput dari jadwal menjalankan shalat berjamaah di masjid.
Kunjungan kali ini adalah ke Masjid Agung An-Nur Pekanbaru. Rombongan melaksanakan shalat Jumat. Sebelumnya
di Masjid Pasar Bawah rombongan menggelar shalat Dhuha. Dalam rombongan ini nampak Dewan Pembina DKM An-Nuur
H. Bhakty Kasry, dua manusia ‘langka’ (H. Jubir & H. Imran), Zainul – PKU, Aziz- Lamongan, Samsul – Mojokerto, Puji –
SUB dan Surya – Pasuruan.
Masjid Agung An-Nur Pekanbaru memiliki kemiripan dengan Taj Mahal yang ada di India, selain halaman masjid yang luas sehingga view terlihat lapang membentang. Masjid ini seluruh ruangan di dalam ber-AC padahal masjidnya besar.
Kegiatan mengunjungi masjid ini sebagai kecintaannya terhadap masjid, tak heran jika slogan Cinta Masjid ini selalu menjadi slogan saat berkunjung ke masjid-masjid baik di daerah maupun luar negeri.
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam, beliau bersabda: “Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh
(safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa” [HR. Al-Bukhaariy no. 1189
dan Muslim no. 3364].
Dalam hadits lain, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tempat
yang paling Allah cintai adalah masjid. Dan tempat yang paling Allah benci adalah
pasar” (HR. Muslim)
Hadis di atas telah menginspirasi Haji Bhakty, setelah terlebih dahulu
mengunjungi tiga masjid tersebut, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan
Masjid Al Aqsha. Kini, tradisi mengunjungi masjid setiap dalam perjalanan
safar selalu menjadi agenda utamanya, baik dalam berbisnis dan liburan.
Kegiatan mengunjungi masjid ini tak lepas dari wejangan Ust. HM Arifin
Ilham yang tertulis dalam 7 sunnah Nabi.
“Semoga kegiatan berkunjung ke masjid dalam rangka cinta masjid
terus berjalan istiqomah,” ungkapnya. [Fath]

Cinta Masjid, Memburu Masjid dari Sabang sampai Merauke

Cinta Masjid, Memburu Masjid dari Sabang sampai Merauke

MASJIDANNUUR.com| Hampir 15 tahun program mengunjungi masjid-masjid telah dilakukan oleh Dewan Pembina DKM An-Nuur Permata Timur, HM. Bhakty Kasry bersama rombongan mulai dari Sabang hingga Merauke. Setiap kunjungan ke kota-kota di Nusantara ini, tak luput dari jadwal menjalankan shalat berjamaah di masjid hingga qiyamullail.

Kegiatan mengunjungi masjid ini sebagai kecintaannya terhadap masjid, tak heran jika slogan Cinta Masjid ini selalu menjadi slogan saat berkunjung ke masjid-masjid baik di daerah maupun luar negeri.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa” [HR. Al-Bukhaariy no. 1189 dan Muslim no. 3364].

Dalam hadits lain, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwasanya pasar adalah tempat yang paling buruk. Beliau bersabda: “Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk  tempat adalah pasar” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3271)

Dalam hadits lain, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid. Dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar” (HR. Muslim)

Tiga hadis di atas telah menginspirasi Haji Bhakty, setelah terlebih dahulu mengunjungi tiga masjid tersebut, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al Aqsha. Kini, tradisi mengunjungi masjid setiap dalam perjalanan safar selalu menjadi agenda utamanya. Bahkan beliau juga mengajak beberapa jamaah dan imam seperti Ustadz Hasanudin Sinaga dll.

“Saya bersyukur bisa mengunjungi tiga masjid yang disebutkan dalam hadis Nabi, dan masjid-masjid di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Semoga kegiatan berkunjung ke masjid dalam rangka cinta masjid terus berjalan istiqomah,” ungkapnya. [NK]

 

 

 

Tahun Baru Islam, Momen Muhasabah Diri

Tahun Baru Islam, Momen Muhasabah Diri

Ustadz HM. Arifin Ilham (Pengajian Bulanan di Masjid An-Nuur)

MASJIDANNUUR.com| Ahlan wa sahlan Muharram, selamat datang Tahun Baru Islam 1439. Pergantian tahun harus menjadi pelajaran berharga untuk mengevaluasi diri selama setahun. Muslim yang baik adalah yang mempersiapkan diri untuk menghadap Allah.

Pergantian hari, pergantian bulan, pergantian tahun adalah seperti titian panjang, dimana setelah kita melewatinya sekian lama, kita akan menjumpai suatu titik akhir. Berhenti! Mati!

Semestinya pergantian hari, bulan, dan tahun merupakan pengingat bagi kita untuk menghitung-hitung seberapa banyak bekal yang sudah kita siapkan, membuat kita menunduk takut, tak mampu memamerkan wajah kesombongan dihadapan kekuatan waktu yang akan menggilas umur. Semakin mendekatkan kita ke padang kematian.

Tahun baru Islam harus menjadi momentum untuk segera berhijrah. Hijrah  ruhiyah, aqliyah, lisaniyah, dan  jasadiyah, semua harus dilakukan. Hijrah  ruhiyah, semakin mendekat kepada Allah. Hijrah  aqliyah, semakin pandai membaca peringatan-peringatan Allah dari bahasa-bahasa alam ini.

Sungguh telah tampak kerusakan di darat dan lautan karena tingkah laku manusia, agar merasakan akibat perbuatan mereka. Semua itu supaya mereka kembali kepada Allah. Jadi, peringatan itu adalah bentuk kasih sayang Allah SWT. Orang Mukmin harus pandai membaca bahasa peringatan dari Allah.

Hijrah  lisaniyah, perbanyaklah bicara kebaikan, jangan berdusta, bergunjing, menghina, memfitnah, jangan sumpah palsu. Negeri ini paling banyak sumpahnya.

Hijrah  jasadiyah, artinya semua kekuatan fisik, politik, ekonomi, sosial, budaya, komponen bangsa ini yang menjadi amanah Allah yang dicanangkan dalam kemerdekaan, ”Berkat rahmat Allah”, mari kita olah bersama dengan mewujudkan keseriusan, taat. Ini yang hilang dari kita selama ini. Hijrah, meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah dan melaksanakan totalitas segala perintah dari Allah. Jadi, hijrah jangan hanya dimaknai secara fisik, hijrah itu pindah dari Makkah ke Madinah.

Marilah kita introspeksi diri, bermuhasabah, berzikir, dan beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah. Menurut saya, bahasa yang paling tepat untuk mengingatkan ini bukan lagi introspeksi. Itu terlalu halus. Yang tepat adalah interogasi diri! Istilah saya interogasi diri. Jadi, harus interogasi diri. Bahasa ini harus dimunculkan. Dan, ini harus semua orang melakukannya.

Hijrah itu  minazh zhulumati ilannur, dari kegelapan menuju cahaya-Nya, dari kemaksiatan kepada ketaatan. ”Dan seandainya penduduk suatu negeri benar-benar beriman dan benar-benar bertakwa kepada Allah maka Allah turunkan keberkahan dari langit dan bumi…. (QS Al-A’raf [96].

Perbanyaklah zikir, muhasabah kepada Allah SWT. Mengapa? Pergantian tahun, berarti menunjukkan makin bertambahnya umur kita, tapi semakin berkurang jatah hidup kita. Karena itu, segeralah perbaiki diri agar bisa menjadi orang lebih baik di masa-masa mendatang.

Jadi, tanda keimanan seorang Mukmin, yakni terus menghisab (mengevaluasi–Red) dirinya. Kemudian, dengan kesadaran dalam hidup ini, dia memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan bekal di akhirat. Karena, kehidupan akhirat selama-lamanya dan dunia ini cuma sebentar. Nah, waktu yang sebentar inilah harus digunakan untuk terus-menerus melakukan muhasabah. []

 

Hijrah yang Meniscayakan

Hijrah yang Meniscayakan

H. Emil Azman Sulthani (Seksi Peribadatan Masjid An-Nuur)

Bulan Al Muharam tahun 1439 H telah datang kembali mengunjungi kita, berarti tahun qamariyah atau hijrah 1438 H telah meninggalkan kita. Setahun umur kita telah berkurang dan panggilan hayat kita semakin dekat menuju haribaan Allah SWT. Pada momen tahun baru Islam ini, sebagai seorang Mukminin dan Muslimin ada baiknya kita merenung sejenak tentang arti hijrah yang hakiki, yang biasanya dikaitkan dengan peringatan tahun baru hijriyah ini. Bagaimana kita dapat merefleksikan kembali makna hijrah yang telah diwariskan Rasulullah SAW hampir lima belas abad yang lalu itu dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan kita sehari-hari era sekarang ini.

Lalu bagaimana cara menghadirkan kembali semangat hijrah yang tepat di zaman kita kini. Tentu tidaklah terlalu sulit, hanya memang perlu kesadaran spiritual yang memadai agar hijrah yang sesungguhnya dapat dilakukan bersamaan dengan taufik Allah SWT. Taufik menjadi penting karena tanpa itu yang muncul hanya kehendak kita sendiri dan tidak bersamaan dengan kehendak Yang Maha Berkehendak. Itulah kenapa dalam setiap berdoa para ulama menganjurkan kita untuk tidak lupa memohon taufik Allah. Kisah sukses hijrah di zaman Nabi adalah contoh kongkrit dari turunnya taufik  dari Allah untuk kaum Muslimin.   

Hijrah sendiri dapat dimaknai dalam banyak terminologi. Ada hijrah badaniyah, ada hijrah ruhaniyah, ada hijrah makaniyah dan ada hijrah maknawiyah. Apapun sebutannya hijrah adalah suatu keniscayaan. Sangat mungkin hijrah dapat juga dimaknai sebagai revolusi mental. Untuk kesehatan mental dan ruhani, hijrah adalah sesuatu yang niscaya.

Hijrah badani dapat dilakukan, misalnya jika kampung tempat kita berdomisili tidak mampu lagi memberikan fasilitas kehidupan secara wajar. Umpamanya mencari nafkah sulit karena lapangan pekerjaan sangat terbatas. Ruang persaudaraan menyempit akibat pertentangan yang susah dipertemukan dan kemudahan beribadah dibatasi. Bila sebuah bangsa tidak lagi merngindahkan kudrat kemajemukan, saling memusnahkan antar sesama, maka berhijrahlah.

Sementara hijrah dalam spektrum ruhani, sifatnya lebih mendalam karena amat berpengaruh kepada perubahan tingkah laku, kekuatan mental dan kesehatan jiwa, menaklukkan hawa nafsu, menumbuhkan energi positif yang menyala-nyala dan konsisten, serta menghilangkan dan mengurangi penyakit hati. Inilah hijrah ruhani itu.

Hijrah makaniyah adalah hijrah dan pindah ke tempat yang lebih baik dan kondusif dari segi keamanan utamanya dalam beribadah. Inilah yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat waktu itu dari Makkah Al Mukarramah ke Madinah Al Munawwarah. Terbukti 17 tahun kemudian mereka datang lagi ke Makkah untuk sebuah penaklukan ruhani. Sehingga kota Makkah kembali menjadi sebuah kota yang merdeka suci dari kemusyrikan dan kemunafikan.

Sedangkan secara maknawiyah para pakar ulama tauhid mengatakan bahwa hijrah adalah berubah dan berpindahnya fisik dan mental suatu kaum dari sesuatu yang buruk kepada yang baik. Semangat hijrah inilah yang harus terus dikembangkan oleh kita sebagi seorang Mukminin dan Muslimin. Dan konteks ini sangat cocok sekali dalam perubahan dunia yang begitu cepat ke arah yang tidak menentu yang penuh dengan materialistik dan hedonis.

Semogalah pergantian tahun baru hijriyah 1438 H ke 1439 H haruslah dimaknai dan disikapi dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas iman, hijrah dan jihad. Karena dengan hanya tiga pilar inilah kita dapat memperbaiki keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jika kesemua pengertian hijrah ini dapat kita lakukan, maka sangat beruntunglah kita sebagai bangsa dengan penduduk Muslim yang terbanyak di dunia ini. Dan mudah-mudahan dapat dicontoh oleh bangsa dan negara lainnya.

Bermohon dan berdoa kita kepada Allah SWT supaya seluruh rakyat dan bangsa Indonesia diberikan kesadaran, hidayah dan taufik dalam melaksanakan hijrah yang sebenar-benarnya hijrah. dan diberi kekuatan untuk mempraktikkannya nanti dalam perspektif kehidupan kesehariannya, serta menjadi contoh dan teladan dalam membangun bangsa dan negara Indonesia yang bahagia di dunia dan di akhirat, seperti doa yang selalu kita semua membacanya. “Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Aamiin yaa mujiibas saailiin. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1439 H mudah-mudahan Allah SWT selalu meridhai segala usaha dan upaya hijrah yang kita lakukan. Wallaahu a‘lam bishshawaab. []

 

 

 

Jamaah Yayasan Pandu Mardhika Tiba, Semoga jadi Haji Mabrur

Jamaah Yayasan Pandu Mardhika Tiba, Semoga jadi Haji Mabrur

MASJIDANNUUR.com| Sebanyak 20 jamaah haji dari Yayasan Pandu Mardhika telah pulang dengan selamat dari Tanah Suci Mekkah pada Selasa, 26 September 2017 malam.
Rombongan jamaah haji yang datang langsung menuju Masjid An- Nuur Pemata Timur Kalimalang Jakarta Timur untuk siap dijemput oleh keluarganya.
Dalam rombongan yang berangkat, ada sebanyak 3 jamaah Masjid An-Nuur, Dodi Pertim 1, Suharno, Puji dan 6 karyawan Pandu Logistics yang menjadi jamaah haji. Mereka karyawan senior yang diberangkatkan dari perusahaan karena dedikasinya yang baik.
Masjid An-Nuur selalu menjadi tempat awal keberangkatan para jamaah yang tergabung di Yayasan Pandu Mardhika. Nampak hadir dalam penyambutan jamaah haji, Ketua Pembina DKM Masjid An-Nuur yang sekaligus CEO Pandu Logistics, HM. Bhakty Kasry.
Semoga jamaah yang datang bisa memberikan manfaat bagi keluarga, dan lingkungan sekitarnya dan mereka
mendapatkan haji yang mabrur. [NK]

Mengapa Manusia Berbuat Dhalim?

Mengapa Manusia Berbuat Dhalim?

MASJIDANNUUR.com| Mengapa manusia bertindak dhalim kepada orang lain, salah satu sebabnya karena ketidak tahuan manusia antara hak dan kewajiban. Bila seseorang mengetahui peran masing-masing, maka tidak akan ada kedhaliman, baik pada dirinya sendiri maupun dhalim kepada orang lain.

Pengajian pekanan di Masjid An-Nuur pada Ahad pagi disampaikan oleh Ustadz Muhammad Subhan dengan mengambil tema ‘Sebab orang berbuat dhalim’.

Banyak orang tanpa sadar telah berbuat dhalim kepada orang lain, baik kepada keluarganya, tetangganya maupun lingkungan sekitarnya. Suami dhalim pada istri, orangtua kepada anak, guru kepada murid dan lain sebagainya. Semua itu karena tidak menempatkan diri mana yang hak dan kewajiban.

“Kalau kepada Allah jangan bicara hak dan kewajiban, tapi tugas-tugas kita kepada Allah, karena Allah pemilik saham penuh setiap makhluknya,” terangnya.

Bahkan Allah menyuruh kita untuk terus berbuat kebaikan, menyuruh untuk berdoa, dengan doa-doa itu Allah akan menjawab hambanya yang meminta. Allah juga menyuruh tawakal dengan tawakal Allah akan menolongnya. [NK]

 

Raih Kebahagiaan dengan Mengenal Kadar Diri

Raih Kebahagiaan dengan Mengenal Kadar Diri

MASJIDANNUUR.com| Salah satu hikmah adanya majelis taklim adalah untuk menstabilkan hidup, ada peredam atas berkecamuknya berbagai persoalan dunia. Kehadiran para jamaah berada di masjid untuk mengikuti taklim, merupakan kehendak Allah untuk mempertemukan para jamaah.

Dalam pengajian pekanan di Masjid An-Nuur Ustadz H. Syihabudin Umar menerangkan bahwa Imam Bukhori menyebutkan bahwa jiwa-jiwa itu seperti tentara yang dipersenjatai jika saling kenal maka akrab dan tidak saling kenal akan menjauh.

Pertemuan beberapa pemuda di gua dalam ashabul kahfi, para pemuda yang lari dari kekejaman raja Romawi. Pertemuan para pemuda itu, Allah menjelaskan bahwa karena mereka sebab iman berkumpul dalam sebuah gua. Mereka saling beriman, karena iman mereka akan diberikan petunjuk. “Sandi yang paling kuat yang dapat mempertemukan seseorang adalah sandi keimanan,” katanya.

Sebuah kisah Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang berhasil mempertemukan antara kesalehan dan kesejahteraan. Ini bentuk potret masyarakat di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu hari, Umar mendengar putranya membeli cincin perak dengan jumlah banyak. Karena seorang ayah dan khalifah, dia tidak setuju dengan tindakannya.

Akhirnya ia menulis surat kepada anaknya, agar cincin perak dijual kembali dan hanya boleh membeli satu cincin satu perak. Itupun dengan satu syarat yaitu di atas cincin itu ditulis kata-kata; ‘Semoga Allah selalu merahmati seseorang yang pintar mengenal keadaan dirinya’.

Maksudnya dengan adanya tulisan itu, sebagai pengingat bahwa Allah akan merahmati seseorang yang kenal dirinya. Mengenal kadar diri itu mengenal lapisan kepribadian kita. Banyak ulama yang bicara bahwa apabila seseorang ingin sukses dalam masyarakat dan ingin mendapat penerimaan yang besar apabila memiliki dua syarat; pandai mengenal kadar diri dan mengenal kadar diri orang lain.

Dalam diri manusia ada sifat yang berlapis-lapis, jika orang mengenal kadar dirinya akan sukses bergaul dengan orang lain. ia akan bisa beradaptasi dengan orang lain dan mudah menempatkan dirinya di sebuah komunitas atau masyarakat.

Dalam paparannya, ustadz menyebutkan ada empat tipikal seseorang menurut Imam Al Ghazali, yaitu orang yang tahu dirinya dan ia mengerti orang lain seperti itu. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi Yusuf yang tersebut dalam QS. Yusuf 55. “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Tipikal kedua adalah orang yang diantara kita yang punya potensi tapi tidak tahu kadar dirinya. Orang yang seperti ini tertidur harus dibangunkan. Tipikal ketiga, orang diatara kita yang tidak tahu, tapi mengerti keadaan dirinya tidak tahu. Orang seperti ini perlu bimbingan.

Tipikal keempat ada orang yang tidak tahu, tapi dia tidak mengerti orangnya seperti itu. Maka orang seperti ini harus dijauhi. Orang seperti ini selalu merasa benar atas ketidaktahuannya.

Mengenal kadar diri ini sudah dicontohkan oleh nabi Muhammad. Ketika beliau mengenal sahabat-sahabatnya. Seperti yang beliau ucapkan, umatku yang paling lembut Abu Bakar, umatku yang paling tegas Umar bin Khatab, umatku yang paling malu adalah Usman bin Affan, umatku yang menentukan halal haram Ali bin Abi Thalib, umatku yang paling cerdas Ubaid bin Kaab.

Artinya, nabi Muhammad itu mengenal dengan detail kadar diri sahabat-sahabatnya. Sehingga ketika bertemu maka beliau pintar menempatkan dirinya di hadapan para sahabat. Dan ini menjadi modal membangun peradaban Islam saat itu. [NK]

 

Inilah Empat Amalan yang Ditolak oleh Allah

Inilah Empat Amalan yang Ditolak oleh Allah

MASJIDANNUUR.com| Amal kebaikan seseorang akan diterima oleh Allah ketika yang beramal dalam keadaan ikhlas karena Allah, selain itu juga kondisi jiwa raga dalam keadaan tidak sedang maksiat. Untuk itu, ajaran Islam telah memberikan ajaran yang lurus yang bisa dijadikan pedoman bagi umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam cerahamnya pada pengajian pekanan di Masjid An-Nuur Permata Timur, Ustadz H. Kholid memaparkan bahwa Rasululllah di waktu pagi sering berdoa, agar diberikan ilmu yang bermanfaat, sebab ilmu itu kebutuhan ruhani, agar ruhnya bercahaya.

Doa selanjutnya adalah agar diberikan amal yang selalu kontinyu. Selain itu juga berdoa agar selalu mendapatkan rezeki yang halal.

Ustadz Kholid menjelaskan, ada empat golongan manusia yang beramal tapi ditolak oleh Allah, sebagaimana disitir dalam alQuran dalam Surah Al-Maidah ayat 90 yang berbunyi ““Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Pertama adalahseseorang yang gemar minum minuman keras. Siapa yang mati dalam keadaan mabuk, maka malaikat yang datang dalam kondisi mabuk. Matanya merah dari cahaya api neraka.

Berikutnya adalah seseorang yang berjudi, perbuatan judi diharamkan dalam Islam dan hasil yang diperoleh tersebut dikatan sebagai hasil yang haram karena cara yang diperoleh tersebut tidak benar.

Berikutnya berkorban untuk berhala, seseorang yang melakukan korban bukan karena Allah maka daging hasil sembelihannya haram, dan amalannya sia-sia di hadapan Allah karena diperuntukkan tidak semata-mata karena Allah. Golongan berikutnya adalah mengundi nasib dengan anak panah.

Pada zamn dahulu mengundi nasib dengan anak panah adalah menentukan nasib seseorang dengan menggunakan busur panah yang belum memiliki bulu. Sekarang mengundi nasib dengan anak panah dapat diartikan mempertaruhkan sesuatu untuk menentukan nasib orang yang mempertaruhkan tersebut, seperti berjudi, membeli lotre, togel, undian, taruhan, dan masih banyak lagi. [NK]

 

Meneladani Keimanan Nabi Ibrahim

MASJIDANNUUR| Jakarta–Jumat penuh berkah, umat Islam seluruh dunia bertakbir, memuji kebesaran Allah. Kemenangan, pengorbanan, merasa dekat dengan Allah dan tunduk dalam irodah dan qudroh-Nya. Tidak ada yang sia-sia Allah menciptakan makhluknya di muka bumi ini, semua dalam irodah dan qudroh-Nya.

Jamaah shalat Idul Adha berbondong-bondong memadati Masjid An-Nuur dan jalanan di kawasan perumahan Permata Timur Kalimalang. Mereka datang dari lingkungan sekitar untuk mendengarkan khutbah Idul Adha yang disampaikan Ustadz H. Doddy Al Jambary pada Jumat 1 September 2017. Bertindak sebagai imam shalat Idul Adha adalah Ustadz Lukman.

Idul Adha tahun ini, Masjid An-Nuur menerima hewan kurban dan membagikanya ke masyarakat. Tahun 2017 ini, Masjid An-Nuur menerima hewan kurban sebanyak 6 sapi dan 10 kambing. Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 September 2017.

Sementara itu dalam khutbah Idul Adha, Ustadz Doddy menyampaikan bahwa berkurban memiliki makna mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Pencipta. Kedekatan makhluk kepada Allah ini bisa dilihat dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad.

Saat usia sekitar 15 tahun, Nabi Ibrahim sudah dekat dengan Allah. Begitu juga ketika Nabi Muhammad masih muda sudah dekat dengan Allah. Keduanya hidup di lingkungan yang membenci mereka. Tidak kondusif untuk mempertahankan keimanan saat itu.

Rasulullah saat tinggal di Mekah dihadapkan dengan berhala-berhala yang dijadikan sesembahan kaun Quraish, begitu juga Nabi Ibrahim saat harus menghancurkan berhala raja Namrud dan ayahnya. Keduanya meninggalkan duniawi dan memilih dekat dengan Allah.

Nabi Ibrahim harus menghadapi ayahnya dan sang raja, dialah satu-satunya nabi yang ditelanjangi oleh kaumnya lalu dibakar. Namun Allah memberikan kekuatan sehingga Ibrahim merasa kedinginan meski dalam api yang membara selama 40 hari. Setelah itu, banyak kaumnya yang mengikuti ajaran Ibrahim.

Setelah selamat dari kobaran api, Nabi Ibrahim justru mendapatkan hadiah dari Allah yaitu sebagai bapaknya para nabi, karena dari Ibrahim bersama Siti Sarah dan Siti Hajar lahir keturunan Ismail dan Ishak yang nantinya muncul Nabi Musa dari garis keturunan Nabi Ishak dan Nabi Muhammad dari keturunan Nabi Ismail.

Menyikapi pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ini, kita harus meneladani keduanya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Hewan kurban yang dikorbankan harus menghapus sifat kebinatangan pada diri manusia dan menjadi lebih taat kepada Allah.

Kecintaan kepada dunia harus dijauhkan dan lebih mengutamakan kepentingan akhirat. Menjadi muslim saja tidak cukup, tapi harus ada upaya untuk menjadi mukmin di hadapan Allah. Karena itu diperlukan pengorbanan untuk menjadi mukmin yang baik.

“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24).

 

 

ALAMAT

Masjid An-Nuur Perumahan Permata Timur Curug Kalimalang Jakarta Timur 13450
Phone: (021) 86900849
Fax: (021) 86900877
Website: http://masjidannuur.com
Email: masjidannuur212@gmail.com

LOKASI MASJID