Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat

Berita

Din Syamsuddin Menyikapi Polemik ‘Kafir’

Din Syamsuddin Menyikapi Polemik ‘Kafir’

ANNUUR–Hasil Putusan Musyawarah Nasional (Munas) Organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 1 Maret lalu terkait penggunaan istilah kafir menjadi perdebatan  di masyarakat.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin turut angkat bicara. Menurutnya, di masyarakat majemuk seperti Indonesia pemakaian istilah kafir untuk menyebut non-muslim harus dengan bijak dan hati-hati. Tapi juga tidak dengan ‘gebyah uyah’ kata kafir dihilangkan. 

“Dalam konteks berbangsa memang harus dibarengi dengan sikap tasamuh (toleransi), sehingga pemakaian istilah tersebut tidak dipakai secara peyoratif (memperburuk) kepada orang lain. Tapi juga tidak mungkin kitab suci yang sudah final lalu diamandemen,” terang Din yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015 seperti diunggah Muhammadiyah.or.id, Sabtu (2/3)

Menurut Din, istilah tersebut perlu dipahami secara menyeluruh, karena pemakaian istilah seperti itu bukan hanya ada di Islam tapi juga agama yang lain. Dalam Islam sendiri istilah kafir banyak disebut dalam Al Qur’an dan ada surat yang secara spesifik nama dan dalam kandungan surat tersebut menerangkan tentang Istilah kafir. “Kita ini mukmin beriman, ada yang tidak beriman sesuai Islam disebut oleh Al Qur’an dengan kata kafir, musrik, juga fasik,” tambahnya. 

Din berpesan, untuk tidak mengubah istilah yang ada di dalam kitab suci. Tapi harus ada kearifan dalam menggunakannya, termasuk dalam konteks saat ini. Istilah tersebut juga ada di agama selain Islam dalam menyebut orang yang berbeda dalam keimanan dengan mereka.  

“Sebenarnya semua agama punya konsep teologi tentang ‘the others and the outsider’, karena semua agama itu memiliki yang disebut kriteria keyakinan,” terang Din.  

Meskipun demikian, putusan dari Munas NU sifatnya hanya sebagai fatwa. Karena ini sifatnya fatwa, maka tidak wajib diikuti. Mengingat fatwa tersebut sudah tersebar secara luas, pasti akan menimbulkan polemik. Terlebih ada event politik, hal semacam ini akan dengan sangat mudah menyulut ketegangan sampai akhirnya menimbulkan ujaran kebencian kepada yang mereka anggap sebagai lawan politiknya. 

“Menuju Pilpers mendatang sudah ada ujaran kebencian dengan menyematkan nama binatang kepada kelompok satu ke kelompok lainnya. Hemat saya itu tidak etis, itu sama saja mendegradasi harkat martabat kemanusiaan,” ucap Din. 

Belajar dari beberapa kejadian tersebut, Din mengajak dalam berpolitik untuk berdebat dengan argumen yang substantif bukan hanya permukaan. Jika hanya permukaan, hal itu hanya akan banyak menguras energi karena pembahasan yang tidak berdampak pada kesejahteraan umat dan bangsa nantinya. [fr]

DMI akan Gelar Gerakan Sejuta Masjid Ramah Anak

DMI akan Gelar Gerakan Sejuta Masjid Ramah Anak

Jakarta–Dewan Masjid Indonesia (DMI) akan menyelenggarakan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Gerakan Nasional Sejuta Masjid Ramah Anak (SEMARAK) DMI Tahun 2019 pada Selasa sampai Rabu (12-13/3) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) DMI Bidang Pemberdayaan Potensi Muslimah, Anak, dan Keluarga (PPMAK), Maria Ulfah Anshor, menyatakan kegiatan ini akan dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Umum PP DMI, Komjen Pol (Purn) Drs H Syafruddin pada Selasa siang.

“Hadir juga Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI, Dra Hj Puan Maharani, selaku keynote speaker dalam acara ini,” kata Maria di Kantor PP DMI, Jakarta. Demikian keterangan tertulis DMI.

Menurutnya, pembukaan Silatnas ini akan diikuti oleh 1.000 orang, termasuk 315 peserta inti dari pengurus Departemen PPMAK DMI, Korps Muballigh-Muballighah DMI, Badan Pembina Taman-Kanak-Kanak Islam (BPTKI) DMI, dan Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid (BKMM) DMI.

Dalam kegiatan ini, lanjutnya, akan ada prosesi penandatanganan Deklarasi Gerakan Nasional SEMARAK. Deklarasi ini akan ditandatangani oleh Waketum PP DMI Syafruddin yang juga Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

“Saya bersama Menko PMK  Puan Maharani, dan perwakilan Kementerian Agama akan menandatangani  Deklarasi Gerakan Nasional SEMARAK,” paparnya. [fr]

Kebaikan Dibalas Kebaikan

Kebaikan Dibalas Kebaikan

ANNUUR| Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena kebaikan itulah yang akan membawa umat Islam menjadi mulia. Salah satu kebaikan yang dianjurkan Rasulullah adalah baik terhadap anak yatim.

Pengajian yang disampaikan oleh Ustadz H. Arifin Nugroho pada Ahad bada Shubuh atau 16 September 2018 mengupas seputar berbuat baik untuk anak yatim dan orang miskin.

Rasulullah pernah menyampaikan bahwa orang yang menaanggung kebutuhan anak yatim kelak ia akan bersama Rasulullah.

“Balasan kebaikan itu adalah kebaikan. Jadi orang yang berbuat baik pasti akan dibalas dengan kebaikan, meskipun sekecil biji sawi. Balasannya dua yaitu di dunia dan di akhirat,” jelasnya.

Ustadz Arifin menambahkan, orang yang berbuat baik seperti menanam, yang nantinya akan tumbuh kebaikan. Ketika menebar kebaikan maka yang akan tumbuh adalah kebaikan. Tinggal menunggu waktunya saja.

Kebaikan lainnya adalah berusaha memberikan kebaikan kepada janda dan orang miskin, kebaikan ini isarat ia sedang berjihad di jalan Allah. Dan seperti berpuasa di puasa di siang hari dan shalat malam hari.

“Banyak orang menimbun harta yang dia sendiri tidak menggunakannya. Dia baru menyesal ketika akan mati,” ujarnya.

Berusaha dan berkorban untuk memberikan kebaikan itu akan dilihat sebagai amalan yang mulia. “Semoga sisa akhir hidup kita bisa memberikan puncak kebaikan yaitu husnul khatimah,” paparnya. [FR]

 

Menyiapkan Kematian yang Tiba Tepat Waktu

Menyiapkan Kematian yang Tiba Tepat Waktu

ANNUUR| Kematian datang tepat waktu, namun tanpa ada yang tau kapan kematian itu datang menjemput ajal. Untuk itu, persiapan sebelum ajal menjemput dengan ajaran islam adalah aktivitas yang harus dilakukan oleh umat Rasulullah.

Pengajian pekanan pada Ahad, 23 September 2018 disampaikan oleh Ustadz H. M Subhan dengan mengambil tema pembahasan tentang kematian.

Sering kita mendengar orang mendadak mati. Sebenarnya yang perlu dicatat adalah mendadak itu bagi yang melihat, tapi bagi yang meninggal itu tidak mendadak. Ustadz Subhan menjelaskan dengan mengambil hadis riwayat Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah hadisnya Shohih bahwa sebelum malaikat maut turun sudah ada malaikat pedahulu yang terlebih dahulu turun.

“Malaiakat pendahulu itu, kalau mau mati orang baik maka yang turun malaikat rahmat. Keberadaan malaikat ini dirahasikan oleh Allah yang bisa merasakan hanya yang akan mati,” katanya. Sebaliknya yang mau mati orang jahat maka malaikat pendahulunya itu malaikat azab. Bentuknya seram menakutkan datang menakutkan.

Malaikat rahmat ini turun untuk membantu husnul khatimah. Makanya banyak urusan dibereskan oleh Allah. Tapi jika malaikat azab yang turun, maka setan iblis terus menggoda tanpa dihalangi malaikat.

Malaikat maut turunnya tidak sendiri melainkan ada timnya, jika yang orang yang bertaqwa malaikat wajib mengucapkan salam. “Sekarang kembali pada kita, kita ingin malaikat mengucapkan salam ke kita tidak? maka kita berupaya menjadi pribadi yang bertaqwa,” paparnya.

Orang yang mau wafat mengalami dua keresahan, tentang keluarga yang akan ditinggalkan. Terutama yang memiliki anak-anak dan cucu. Jika orang ini baik, maka malaikat akan mengurus anak-anak yang ditinggalkan. Keresahan berikutnya adalah setelah ini kemana, surga atau neraka. Jika orang yang bertaqwa malaikat menjawab ke surga. Sebaliknya ke neraka.

Dari arah kaki nyawa dicabut, bergerak ke atas saat itu orang yang mau wafat melihat tempat tinggalnya. Makanya saat sakaratul maut tidak terasa karena melihat rumah surga. Sehingga husnul khatimah. [FR]

 

 

Tiga Periode Perintah Qurban

Tiga Periode Perintah Qurban

ANNUUR| Mendekati Idul Adha, tepatnya pada Ahad, 12 Agustus 2018, kajian subuh di Masjid An-Nuur setelah Shubuh membahas tema seputar ‘Tiga periode qurban’ yang disampaikan oleh Ustadz Kirman Wibowo.

Tercatat dalam sejarah, bahwa ibadah qurban telah dimulai sejak nenek moyang manusia pertama sebagaimana dikisahkan Al-Quran (QS. Al-Maidah: 27). “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima yang lain (Qabil).”

Para ahli tafsir menyatakan bahwa peristiwa qurban yang dilakukan putra Adam As adalah merupakan solusi dari polemik perang dingin yang terjadi antara keduanya dalam mempersunting Iklimah sebagai pasangan hidup melalui qurban yang diterima Allah.

Pada akhir kisah disebutkan, ternyata qurban yang diterima Allah SWT adalah yang didasarkan atas keihlasan dan ketaqwaan kepada-Nya, yaitu qurban Habil yang berupa seekor domba yang besar dan bagus. Sementara qurban Qabil ditolak karena dilakukan atas dasar hasud (kedengkian). Karena kebakhilannya, ia juga memilihkan domba peliharaannya yang kurus untuk untuk diqurbankan.

Qabil yang kalah dalam sayembara qurban akhirnya ia memutuskan untuk membunuh saudaranva sendiri. Peristiwa ini adalah awal kali terjadinya pembunuhan dalam sejarah umat manusia.

Periode kedua ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih anaknya sendiri, Ismail untuk diqurbankan. Karena Ibrahim ragu apakah perintah tersebut benar-benar dari Allah atau iblis (Tarwiyah), akhirnya setelah mimpi yang ketiga Ibrahim meyakini bahwa ini perintah Allah (Arafah). Lalu ketika Ismail akan disembelih, Allah menggantikannya dengan seekor domba besar.

Periode Ketiga, ketika Rasulullah menerima wahyu Surat AlKausar: 2 “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).

Jelas Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk menjalankan shalat dan berqurban. Dan qurban itu diperuntukkan untuk yangmasih hidup. Di mana ayat tersebut satu rangkaian, di mana menyuruh sholat yang mana untuk orang yang masih hidup lalu perintah berqurban.

 

`

Menyiapkan Haji Sejak Usia Muda

Menyiapkan Haji Sejak Usia Muda

ANNUUR| Berhaji bisa dilakukan persiapannya jauh-jauh hari, selama ini kita sering kurang tepat merencanakan untuk beribadah haji. Kebanyakan tidak direncanakan sejak dini untuk bisa berangkat haji. Padahal jika kita persiapkan di usia mhbuda akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Pengajian setelah shalat Shubuh yang disampaikan oleh Ustadz Sugiarto Sutomo di Masjid An-Nuur Permata Timur ini mengambil tema ‘Menyiapkan sejak dini untuk berhaji’.

Dalam paparannya, Ustadz Sugiarto mengatakan bahwa sebagai orangtua yang memiliki anak-anak, hendaknya bisa menghimbau kepada anak-anaknya agar bisa menyiapkan lebih dini untuk beribadah haji. Hal ini penting, karena ketika umur masih muda kekuatan untuk menjalankan haji bisa lebih baik dibanding diusia yang sudah uzur.

Bagaimana caranya? Ustadz Sugiarto menyarankan agar anak-anak diusia 30 tahun sudah bisa memulai membuka tabungan haji agar kelak di usia 40 tahun sudah bisa dan siap untuk menjalankan ibadah haji.

Hikmah menyiapkan ibadah haji sejak dini ini juga akan berdampak pada akhlak si anak untuk bisa selalu berperilaku yangbaik. Seperti yang dikupas dalam al-Quran Surat al-Baqarah 197: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berdebat di dalam masa mengerjakan haji.”

Jelas sekali ketika sudah melakukan niat dan persiapan untuk berhaji melalui menabung, maka si anak tidak boleh berbuat rafats, fasik perbuatan jelek lainnya. Jika ini tertanam dalam si anak, maka saat tiba waktunya menjalanakn haji, ia benar-benar sudah siap dan mampu menjalankannya.

Anak muda yang sudah terlatih tidak berbuat rafats, fasik, maksiat dan mampu mengendalikan pembicaraan, niscaya dia akan menjadi pribadi unggul ditambah sudah berhaji. Makanya akan mendapatkan haji yang best quality.[]

 

 

 

Istiqomah dalam Kesiagaan Jaga Aqidah

Istiqomah dalam Kesiagaan Jaga Aqidah

ANNUUR| Umat Islam selalu menjadi target para iblis untuk dijerumuskan ke jalan mereka. Upaya yang tiada henti dari iblis menggoda manusia ini harus dilawan dengan selalu tetap siaga dalam menjaga aqidah.

Pengajian pekanan setelah shalat Shubuh berjamaah di Masjid An-Nuur oleh Ustadz H. Muhammad Hazairin mengambil tema ‘Istiqoma dalam kesiagaan’.

Menurut Ustadz Hazairin, musuh Islam terus berusaha menggelincirkan umat Islam dari keyakinannya, dipisahkan dari ulamanya, dipisahkan dari ajarannya dan agamanya. “Ini bukan hal yang remeh, kita harus jaga Islam hingga ajal kita menjemput,” ungkapnya.

Saat ini kita sudah ikut berjuang, namun bagaimana dengan anak cucu kita nanti. Apakah mereka nanti termasuk dari yang ikut berjuang menjaga agama Allah atau termasuk yang dikuasai oleh musuh-musuh Allah?.

Untuk itu kita harus dalami istiqomah dalam kesiagaan. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.   (Qs. Al-Imran :200)

Jadi siaga itu tidak sewaktu-waktu tapi secara istiqomah secara terus menerus. Biasanya kalau kita siaga kalau ada bencana, teroris, padahal siaga itu setiap saat karena serangan musuh itu setiap saat datangnya.

Misalanya serangan dari makhluk yang tidak terlihat, seperti godaan dari iblis untuk menjerumuskan manusia yang berusaha taat. Iblis akan terus menghalangi hamba Allah untuk melenceng dari hukum Allah.

Iblis akan mendatangi dari depan, belakang, kiri kanan dari berbagai arah. Itu ancaman dari iblis yang harus dihadapi setiap saat karena itu harus selalu siaga. “Ancaman iblis tidak main-main, ia bekerja keras mengarahkan anak buahnya agar manusia ragu-ragu dalam ibadah,” tuturnya.

Para iblis tidak akan pernah berhenti untuk memadamkan cahaya dakwah, cahaya Islam hingga datangnya hari kiamat. “Kalau kita semua bersatu, insyaAllah, Allah akan menyempurnakan cahaya Islam, kita tidak terpengaruh dengan godaan iblis,” tegasnya.

Ancaman Allah Terhadap Muamalah Riba

Ancaman Allah Terhadap Muamalah Riba

ANNUUR| Salah satu amal perbuatan yang akan menjerumuskan manusia ke neraka adalah praktik riba. Praktik riba dalam kehidupan umat Islam sudah sangat massif, bahkan terkadang tanpa terasa kita telah menjalankan praktik riba dalam bermuamalah.

Pengajian pekanan setelah Maghrib disampaikan oleh setelah Maghrib disampaikan oleh Ustadz Sofwan Jauhari dengan mengambil tema ‘Menghindari muamalah yang mengandung riba’.

Menurut Ustadz, Rasulullah telah memberikan peringatan kepada umat Islam tentang bahaya riba. Bahkan Rasulullah telah menejlaskan akan datang suatu masa dimana manusia tidak peduli lagi dengan harta dari jalan haram atau halal.

Ketika manusia sudah tidak mempedulikan lagi praktik halal haram dalam bermuamalah, maka Allah jaminkan neraka di akhirat kelak. Karena neraka jaminannya, karena itu wajib bagi kita mempelajari soal muamalah agar kita tidak terkena ancamanan masuk neraka dari harta haram.

Seperti dijelaskan dalam Surat Al-Baqoroh 275-279 digambarkan bagaimana bahaya dari riba. “Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” 

Jelas sekali, ada ancaman-ancaman yang datang dari Allah bila manusia mengonsumsi riba, yaitu Allah ancam tidak bisa berdiri melainkan seperti orang yang kesurupan, berdirinya sempoyongan. Allah ancam dengan memusnahkan hartanya, “Kita sudah pontang panting siang malam mencari rejeki ternyata pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan, selalu tidak cukup,” katanya.

Allah ancam dengan kekufuran, karena bertolak belakang dengan ajaran Islam, karena mengambil untung dari kegiatan sosial. Allah ancam sebagai penghuni neraka dan kekal di dalamnya, serta Allah ancam dengan peperangan terhadap pelaku riba.

Untuk itu, setiap muslim mangantisipasi praktik riba ini. Karena dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk orang-orang sekitarnya.

Masyarakat masih banyak yang belum bisa membedakan antara transaksi sosial maupun komersial. Kita sedekah yang kita harapakan adalah pahala, jadi mengeluarkan harta kepada orang yang kita harapkan adalah pahala. “Secara matematika rugi dalam hitungan dunia. Memberi tanpa mengharap menerima, hutang piutang juga seperti itu. Ketika hutang piutang dikenakan untung maka haram,” ujarnya.

Islam telah memberikan solusi yang jelas soal riba ini. Di mana dalam Islam, wilayah halal lebih banyak daripada yang haram. Karena hukum dasar muamalah adalah halal dan boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Beda dengan ibadah, hukum asalnya adalah haram kecuali ada dalil yang memerintahkannya. “Jadi wilayah halal dalam muamalah lebih banyak daripada yang haram,” tegasnya.

 

Hikmah Idul Qurban

Hikmah Idul Qurban

Oleh: Ustadz H. Muhammad Arifin Ilham

ANNUUR| Subhanallah, ibadah qurban merupakan ibadah bukti cinta kepada Allah Aza wajjalla. Nabi Ibrahim karena saking cintanya kepada Allah, anak tercinta yang sekian lama dirindukan, rela dikorbankan. Lebih hebat lagi Siti Hajar, anak yang dikandung dan dilahirkan, rela dikorbankan demi cintanya kepada Allah. Lebih hebat lagi Ismail, dirinya rela dikorbankan, demi cintanya kepada Allah.

Karena itu mereka menjadi keluarga kecintaan dan kekasih Allah. Karena cintanya yang luar biasa, mereka pun diabadikan dalam shalat. Kama sholaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali ibrahim. Kama barakta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim. Dalam ibadah haji, mereka pun diabadikan.

Allah pun mengabadikan mereka saat ‘Idul Qurban. Ini adalah aplikasi cintanya seorang mukmin kepada Allah. Bukan hewan korbannya, tapi cintanya kepada Allah. Lan tanamul birra hataa tuhibunii mimma tuhibuhu. Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan sempurna dari Allah atau nilai yang maksimal, misal seratus, kecuali engkau memberikan apa yang paling dicintai. Oleh karena itu hewan yang dikorbankan harus yang terbaik. Kemampuan kita yang terbaik. Tidak boleh cacat, umur yang cukup dan sebagainya. Kalau Nabi Ibrahim diminta anaknya, masa kita hanya hewan korban. Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar.

Kemudian dalam ibadah qurban, juga diajarkan mencintai keluarga. Justru cintanya kepada keluarga itu cinta kepada Allah. Dengan mengajak keluarga berkorban berarti mencintai Allah dan mencintai keluarganya sendiri. Karena hikmah kecintaan kepada Allah adalah kecintaan kepada keluarga.

Subhanallah, tidak ada musuh yang paling besar dari agama ini, dan itu adalah salah satu penyakit umat saat ini, yaitu penyakit bakhil. Maka qurban mencabut sikap bakhil ini, laa yadhulal jannah al bakhiil wa lau kaana ‘aabidan. Orang bakhil tidak akan masuk surga walaupun ia ahli ibadah. Jadi harus ada wujud nyata kalau ingin masuk surga, yaitu ibadah sosial. Maka hikmah yang ketiga dari ibadah qurban ini adalah ibadah sosial. Carefully terhadap para dhu’afa, bahkan kepada mustad’afin. Karena itu sudah selayaknya dalam pembagian korban, mereka dapat pembagian yang merata.

Islam itu ritual sosial. Shalat, Allahu akbar, kemudian salam. Apalagi puncaknya haji. Haji ini subhanallah, konferensi akbar umat Islam. Islam agama yang tidak terikat dengan teritorial geografis, rasis dan nasionalisme. Bahkan Islam agama yang tidak terikat waktu. Yang mengikat Islam Allah dan rasul-Nya. Inilah ajaran khilafah. Agama internasional yang dipersiapkan oleh Allah sebagai rahmatan lil alamin.

Kemudian ibadah qurban juga mengajarkan kekompakan umat Islam. Dari cara-cara menyembelih itu ada kekompakan. Kemudian diajarkan juga etika dalam penyembelihan. Itu adalah gladi resik atau latihan untuk jihad perang. Jadi jangan takut melihat darah. Siti Aisyah itu sebelumnya takut darah. Tapi diperintahkan oleh Rasulullah untuk melihat darah saat menyembelih hewan korban, maka Aisyah pun berani melihat darah. Bahkan di berbagai tempat orang-orang pun hadir saat penyembelihan itu. Ini agar umat ini punya nyali. Jangan ciut melihat darah. Dan ini juga sebagai latihan menyembelih. Jadi kalau nanti perang pun maka umat Islam siap. Subhanallah. Itu sekalian show of force, unjuk kekuatan umat Islam. Bayangkan kalau semua aghniya melakukan itu. Allahu akbar.

Esensi yang paling bisa diambil dari ibadah qurban itu adalah pengorbanan. Jadi nilai pengorbanan itu, seberapa besar pengorbanan kita kepada Allah, maka sebesar itu cinta kita kepada Allah. Makin besar pengorbanan kita, maka makin besar cinta Allah kepada kita. Dusta kalau kita cinta tanpa berkorban. Cinta tidak cukup mengatakan aku cinta padamu, tapi mana bukti cintamu padaku.

Haji itu salah satu bentuk cinta orang kepada Allah. Ia tinggalkan keluarganya. Jabatan memakai pakain ihram, ia siap mati. Nah orang yang berkorban itu membuktikan cintanya kepada Allah. Allahu akbar, walillahilhamdu. Jadi takbirnya itu benar. Allah Maha besar, segala puji bagi Allah. Jika ia membaca Allahu akbar walilahilhamdu kemudian berkorban maka ia benar takbirnya. Tapi kalau tidak berkorban maka ia cuma sebatas dzikiran.

Makanya, orang yang berdzikir dan berjihad itu tidak bisa dipisahkan. Orang berdzikir itu berjihad, orang berjihad itu berdzikir. Alquran surat al anfat ayat 45, :Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menghadapi musuh-musuh maka hadapi mereka dengan sabar dan berdzikirlah sebanyak-banyaknya , niscaya kamu akan menang. Ini kekuatan spiritual dan kekuatan material. Dua hal ini tak dapat dipisahkan. Walau pun dapat dibeda-bedakan tapi kedua-duanya menyambung menjadi energi jihad yang luar biasa.

Adapun di antara hikmah dari Idul Qurban adalah sebagai berikut;

Pertama, sebagai bukti nyata ekspresi syukur kita kepada Allah; ” Supaya mereka menyebut nama Allah SWT. atas apa yang Allah SWT. (telah) karuniakan kepada mereka itu (yakni) berupa binatang ternak… “ (QS al-Hajj, (22):34).

Kedua, bukti  kita sebagai hamba bertakwa ; ” Daging-daging qurban serta darahnya (tersebut) sekali-kali tidak bisa mencapai (keridhaan) Allah, (namun) tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya (meraihnya)…” (QS al-Hajj, (22) :37).

Ketiga, ter-akuinya (kita) sebagai umat baginda Rasulullah SAW ; ” Barang siapa (diantara kalian) yang mempunyai keluasan (harta yang dimilikinya) serta (kalian) tidak mau berqurban maka janganlah (kalian) mendekati tempat shalat kami “ (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, Ad Daruquthni, dan Al Baihaqi).

Keempat, meraih ampunan dosa ; ” …Fatimah, berdirilah serta (lihatlah) saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya, engkau diampuni (Oleh Allah SWT) pada saat awal tetesan darah (hewan qurban) itu dari dosa-dosa yang engkau lakukan (kerjakan)… “ (HR Abu Daud dan At-Tirmizi).

Kelima, berpahala sangat besar ; ”Pada setiap lembar bulunya (hewan qurban) itu kita tentu akan memperoleh satu kebaikan,” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Keenam, Kita akan mendapat kesaksian yang sangat indah dari hewan yang kita qurban kelak ; ” Sesungguhnya, dia (hewan qurban tersebut) akan datang ketika pada hari kiamat ….“ (HR At-Tirmidzi,  Ibnu Majah, serta Al-Hakim).

Demikian besar keutamaan dari ibadah qurban tersebut, wahai saudaraku ! Semoga Allah SWT. selalu memberi keluasan rezekiNya kepada kita supaya dapat memenuhi serta menerima amal ibadah qurban kita. Aamiin ya rabbal  ‘alamin!

 

Menjadi Manusia Ramadhan di Luar Ramadhan

Menjadi Manusia Ramadhan di Luar Ramadhan

Oleh : Emil Azman Sulthani (Bagian Peribadatan Masjid An-Nuur)

ANNUUR| Ramadhan 1439 H telah pergi dan berlalu. Apakah ada kesan dan pesan yang telah diambil oleh umat Islam terhadap tarbiyah Ramadhan ini? Kalau ya, bersyukur kita kepada Allah SWT, karena kita telah merespom Ramadhan secara baik dan cerdas, kalau tidak, berarti kita menjadi orang yang merugi, karena Ramadhan baru akan ada kembali setahun lagi.

Para ulama mengatakan bahwa berhasil atau tidaknya nilai-nilai Ramadhan ini bagi para shaaimin dan shaaimat adalah terlihat sesudah Ramadhan. Apakah ada bekas amalan Ramadhan yang masih dikerjakan di luar Ramadhan. Seperti keshalihan sosial, kejujuran, rasa empati, menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, berlomba-lomba dalam kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah SWT dan lain sebagainya. Jiwa

“… dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali …” demikian penggalan firman Allah SWT dalam QS An Nahl(16): 92. Allah SWT telah mensinyalir bahwa kebanyakan kita kaum Muslimin setelah berpuasa,   biasanya perilaku mereka akan kembali lagi seperti sebelum Ramadhan.

Tidak salah jika para ulama yang mengatakan bahwa berhasil tidaknya ibadah seseorang terlihat dari akhirnya atau sesudah ibadah tersebut berlangsung. Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi setelah puasa tidak terlihat dampak puasa mereka terhadap perilaku mereka yang telah mereka lakukan selama Ramadhan. Jadi tidak terlihat outcomenya yaitu dampak atau manfaat dari output dari puasa tersebut.

Dalam kitab Targhib wa Tarhib kumpulan hadits-hadits tentang puasa karya Ibnu Hajar Atsqalani, ada beberapa tip dan trik untuk mempertahankan nilai-nilai Ramadhan di luar Ramadhan.  Pertama, mewaspadai terhadap godaan syetan yang lebih besar lagi di luar Ramadhan. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW para syetan dibelenggu  selama Ramadhan, pintu-pintu syurga dibuka selebar-lebarnya dan pintu-pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Karena diri kita waktu Ramadhan dibentengi oleh puasa yang sedang kita lakukan. Kalau sudah tidak berpuasa lagi, akankah benteng ini masih ada? Kita sendirilah yang harus menjaganya secara istiqamah.

Kedua, meneruskan amalan ibadah selama Ramadhan di luar Ramadhan.  Seperti puasa-puasa  sunah, Senin Kamis, puasa Ayamul Bidh tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan hijriyah, puasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadhan, puasa nabi Daud sehari berpuasa sehari berbuka serta puasa-puasa sunah lainnya hari Arafah 9 Dzulhijjah, Asyura 10 Muharam dan lain sebagainya. Tilawatil Quran dengan program tahsin, tajwid dan tahfizh sampai kepada tafsir, tadabbur ayat-ayat Allah dan mengamalkannya. Bersedeqah berupa zakat, infaq, sadaqah dan waqah (ziswaf). Ta’lim dan halaqah ilmu yang intens selama Ramadhan hendaknya dilanjutkan. Begitu pula dengan shalat-shalat sunahnya seperti Rawatib dan shalat sunnah lainnya. Amalan-amalan ini seharusnya dilakukan secara mudawwamah, ajeg terus menerus serta istiqamah dari waktu ke waktu.

Ketiga jangan hanya menjadi hamba Ramadhan , tetapi jadilah hamba Allah. Artinya sama perbuatan amalnya baik di Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Kalau hanya menjadi hamba Ramadhan alangkah ruginya kita karena ada sebelas bulan lagi di luar Ramadhan. Malahan para ulama salaf sudah memulai amalan-amalan yang berkaitan dengan Ramadhan, sebelas bulan sebelum Ramadhan. Inilah orang-orang yang cerdas di mata Allah SWT.

Keempat selalu berdoa  semoga sebelas bulan ke depan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan tahun mendatang. Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk menjadi umat yang solutif. Menjadi umat Ramadhan di luar Ramadhan. Bermohon dan berdoa kita kepada Allah SWT supaya kita orang-orang yang beriman dan bertaqwa ini, secara cerdas dan bersemangat spiritual untuk dapat melanjut kan amalan Ramadhan di luar Ramadhan.  Dengan tetap berdoa, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW “Ya  Tuhan yang memiliki hati kami, tetapkanlah hati kami atas agamaMu dan selalu taat kepadaMu. Aamiin yaa mujiibas saailiin. Selamat Hari Raya Idul Fithri 1 Syawal 1439 H, semoga puasa dan seluruh amal kita diterima Allah SWT. Wallaahu a‘lam bishshawaab.[]

 

ALAMAT

Masjid An-Nuur Perumahan Permata Timur Curug Kalimalang Jakarta Timur 13450
Phone: (021) 86900849
Fax: (021) 86900877
Website: http://masjidannuur.com
Email: masjidannuur212@gmail.com

LOKASI MASJID