Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat

Berita

Tiga Periode Perintah Qurban

Tiga Periode Perintah Qurban

ANNUUR| Mendekati Idul Adha, tepatnya pada Ahad, 12 Agustus 2018, kajian subuh di Masjid An-Nuur setelah Shubuh membahas tema seputar ‘Tiga periode qurban’ yang disampaikan oleh Ustadz Kirman Wibowo.

Tercatat dalam sejarah, bahwa ibadah qurban telah dimulai sejak nenek moyang manusia pertama sebagaimana dikisahkan Al-Quran (QS. Al-Maidah: 27). “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima yang lain (Qabil).”

Para ahli tafsir menyatakan bahwa peristiwa qurban yang dilakukan putra Adam As adalah merupakan solusi dari polemik perang dingin yang terjadi antara keduanya dalam mempersunting Iklimah sebagai pasangan hidup melalui qurban yang diterima Allah.

Pada akhir kisah disebutkan, ternyata qurban yang diterima Allah SWT adalah yang didasarkan atas keihlasan dan ketaqwaan kepada-Nya, yaitu qurban Habil yang berupa seekor domba yang besar dan bagus. Sementara qurban Qabil ditolak karena dilakukan atas dasar hasud (kedengkian). Karena kebakhilannya, ia juga memilihkan domba peliharaannya yang kurus untuk untuk diqurbankan.

Qabil yang kalah dalam sayembara qurban akhirnya ia memutuskan untuk membunuh saudaranva sendiri. Peristiwa ini adalah awal kali terjadinya pembunuhan dalam sejarah umat manusia.

Periode kedua ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih anaknya sendiri, Ismail untuk diqurbankan. Karena Ibrahim ragu apakah perintah tersebut benar-benar dari Allah atau iblis (Tarwiyah), akhirnya setelah mimpi yang ketiga Ibrahim meyakini bahwa ini perintah Allah (Arafah). Lalu ketika Ismail akan disembelih, Allah menggantikannya dengan seekor domba besar.

Periode Ketiga, ketika Rasulullah menerima wahyu Surat AlKausar: 2 “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).

Jelas Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk menjalankan shalat dan berqurban. Dan qurban itu diperuntukkan untuk yangmasih hidup. Di mana ayat tersebut satu rangkaian, di mana menyuruh sholat yang mana untuk orang yang masih hidup lalu perintah berqurban.

 

`

Menyiapkan Haji Sejak Usia Muda

Menyiapkan Haji Sejak Usia Muda

ANNUUR| Berhaji bisa dilakukan persiapannya jauh-jauh hari, selama ini kita sering kurang tepat merencanakan untuk beribadah haji. Kebanyakan tidak direncanakan sejak dini untuk bisa berangkat haji. Padahal jika kita persiapkan di usia mhbuda akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Pengajian setelah shalat Shubuh yang disampaikan oleh Ustadz Sugiarto Sutomo di Masjid An-Nuur Permata Timur ini mengambil tema ‘Menyiapkan sejak dini untuk berhaji’.

Dalam paparannya, Ustadz Sugiarto mengatakan bahwa sebagai orangtua yang memiliki anak-anak, hendaknya bisa menghimbau kepada anak-anaknya agar bisa menyiapkan lebih dini untuk beribadah haji. Hal ini penting, karena ketika umur masih muda kekuatan untuk menjalankan haji bisa lebih baik dibanding diusia yang sudah uzur.

Bagaimana caranya? Ustadz Sugiarto menyarankan agar anak-anak diusia 30 tahun sudah bisa memulai membuka tabungan haji agar kelak di usia 40 tahun sudah bisa dan siap untuk menjalankan ibadah haji.

Hikmah menyiapkan ibadah haji sejak dini ini juga akan berdampak pada akhlak si anak untuk bisa selalu berperilaku yangbaik. Seperti yang dikupas dalam al-Quran Surat al-Baqarah 197: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berdebat di dalam masa mengerjakan haji.”

Jelas sekali ketika sudah melakukan niat dan persiapan untuk berhaji melalui menabung, maka si anak tidak boleh berbuat rafats, fasik perbuatan jelek lainnya. Jika ini tertanam dalam si anak, maka saat tiba waktunya menjalanakn haji, ia benar-benar sudah siap dan mampu menjalankannya.

Anak muda yang sudah terlatih tidak berbuat rafats, fasik, maksiat dan mampu mengendalikan pembicaraan, niscaya dia akan menjadi pribadi unggul ditambah sudah berhaji. Makanya akan mendapatkan haji yang best quality.[]

 

 

 

Istiqomah dalam Kesiagaan Jaga Aqidah

Istiqomah dalam Kesiagaan Jaga Aqidah

ANNUUR| Umat Islam selalu menjadi target para iblis untuk dijerumuskan ke jalan mereka. Upaya yang tiada henti dari iblis menggoda manusia ini harus dilawan dengan selalu tetap siaga dalam menjaga aqidah.

Pengajian pekanan setelah shalat Shubuh berjamaah di Masjid An-Nuur oleh Ustadz H. Muhammad Hazairin mengambil tema ‘Istiqoma dalam kesiagaan’.

Menurut Ustadz Hazairin, musuh Islam terus berusaha menggelincirkan umat Islam dari keyakinannya, dipisahkan dari ulamanya, dipisahkan dari ajarannya dan agamanya. “Ini bukan hal yang remeh, kita harus jaga Islam hingga ajal kita menjemput,” ungkapnya.

Saat ini kita sudah ikut berjuang, namun bagaimana dengan anak cucu kita nanti. Apakah mereka nanti termasuk dari yang ikut berjuang menjaga agama Allah atau termasuk yang dikuasai oleh musuh-musuh Allah?.

Untuk itu kita harus dalami istiqomah dalam kesiagaan. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.   (Qs. Al-Imran :200)

Jadi siaga itu tidak sewaktu-waktu tapi secara istiqomah secara terus menerus. Biasanya kalau kita siaga kalau ada bencana, teroris, padahal siaga itu setiap saat karena serangan musuh itu setiap saat datangnya.

Misalanya serangan dari makhluk yang tidak terlihat, seperti godaan dari iblis untuk menjerumuskan manusia yang berusaha taat. Iblis akan terus menghalangi hamba Allah untuk melenceng dari hukum Allah.

Iblis akan mendatangi dari depan, belakang, kiri kanan dari berbagai arah. Itu ancaman dari iblis yang harus dihadapi setiap saat karena itu harus selalu siaga. “Ancaman iblis tidak main-main, ia bekerja keras mengarahkan anak buahnya agar manusia ragu-ragu dalam ibadah,” tuturnya.

Para iblis tidak akan pernah berhenti untuk memadamkan cahaya dakwah, cahaya Islam hingga datangnya hari kiamat. “Kalau kita semua bersatu, insyaAllah, Allah akan menyempurnakan cahaya Islam, kita tidak terpengaruh dengan godaan iblis,” tegasnya.

Ancaman Allah Terhadap Muamalah Riba

Ancaman Allah Terhadap Muamalah Riba

ANNUUR| Salah satu amal perbuatan yang akan menjerumuskan manusia ke neraka adalah praktik riba. Praktik riba dalam kehidupan umat Islam sudah sangat massif, bahkan terkadang tanpa terasa kita telah menjalankan praktik riba dalam bermuamalah.

Pengajian pekanan setelah Maghrib disampaikan oleh setelah Maghrib disampaikan oleh Ustadz Sofwan Jauhari dengan mengambil tema ‘Menghindari muamalah yang mengandung riba’.

Menurut Ustadz, Rasulullah telah memberikan peringatan kepada umat Islam tentang bahaya riba. Bahkan Rasulullah telah menejlaskan akan datang suatu masa dimana manusia tidak peduli lagi dengan harta dari jalan haram atau halal.

Ketika manusia sudah tidak mempedulikan lagi praktik halal haram dalam bermuamalah, maka Allah jaminkan neraka di akhirat kelak. Karena neraka jaminannya, karena itu wajib bagi kita mempelajari soal muamalah agar kita tidak terkena ancamanan masuk neraka dari harta haram.

Seperti dijelaskan dalam Surat Al-Baqoroh 275-279 digambarkan bagaimana bahaya dari riba. “Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” 

Jelas sekali, ada ancaman-ancaman yang datang dari Allah bila manusia mengonsumsi riba, yaitu Allah ancam tidak bisa berdiri melainkan seperti orang yang kesurupan, berdirinya sempoyongan. Allah ancam dengan memusnahkan hartanya, “Kita sudah pontang panting siang malam mencari rejeki ternyata pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan, selalu tidak cukup,” katanya.

Allah ancam dengan kekufuran, karena bertolak belakang dengan ajaran Islam, karena mengambil untung dari kegiatan sosial. Allah ancam sebagai penghuni neraka dan kekal di dalamnya, serta Allah ancam dengan peperangan terhadap pelaku riba.

Untuk itu, setiap muslim mangantisipasi praktik riba ini. Karena dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk orang-orang sekitarnya.

Masyarakat masih banyak yang belum bisa membedakan antara transaksi sosial maupun komersial. Kita sedekah yang kita harapakan adalah pahala, jadi mengeluarkan harta kepada orang yang kita harapkan adalah pahala. “Secara matematika rugi dalam hitungan dunia. Memberi tanpa mengharap menerima, hutang piutang juga seperti itu. Ketika hutang piutang dikenakan untung maka haram,” ujarnya.

Islam telah memberikan solusi yang jelas soal riba ini. Di mana dalam Islam, wilayah halal lebih banyak daripada yang haram. Karena hukum dasar muamalah adalah halal dan boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Beda dengan ibadah, hukum asalnya adalah haram kecuali ada dalil yang memerintahkannya. “Jadi wilayah halal dalam muamalah lebih banyak daripada yang haram,” tegasnya.

 

Hikmah Idul Qurban

Hikmah Idul Qurban

Oleh: Ustadz H. Muhammad Arifin Ilham

ANNUUR| Subhanallah, ibadah qurban merupakan ibadah bukti cinta kepada Allah Aza wajjalla. Nabi Ibrahim karena saking cintanya kepada Allah, anak tercinta yang sekian lama dirindukan, rela dikorbankan. Lebih hebat lagi Siti Hajar, anak yang dikandung dan dilahirkan, rela dikorbankan demi cintanya kepada Allah. Lebih hebat lagi Ismail, dirinya rela dikorbankan, demi cintanya kepada Allah.

Karena itu mereka menjadi keluarga kecintaan dan kekasih Allah. Karena cintanya yang luar biasa, mereka pun diabadikan dalam shalat. Kama sholaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali ibrahim. Kama barakta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim. Dalam ibadah haji, mereka pun diabadikan.

Allah pun mengabadikan mereka saat ‘Idul Qurban. Ini adalah aplikasi cintanya seorang mukmin kepada Allah. Bukan hewan korbannya, tapi cintanya kepada Allah. Lan tanamul birra hataa tuhibunii mimma tuhibuhu. Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan sempurna dari Allah atau nilai yang maksimal, misal seratus, kecuali engkau memberikan apa yang paling dicintai. Oleh karena itu hewan yang dikorbankan harus yang terbaik. Kemampuan kita yang terbaik. Tidak boleh cacat, umur yang cukup dan sebagainya. Kalau Nabi Ibrahim diminta anaknya, masa kita hanya hewan korban. Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar.

Kemudian dalam ibadah qurban, juga diajarkan mencintai keluarga. Justru cintanya kepada keluarga itu cinta kepada Allah. Dengan mengajak keluarga berkorban berarti mencintai Allah dan mencintai keluarganya sendiri. Karena hikmah kecintaan kepada Allah adalah kecintaan kepada keluarga.

Subhanallah, tidak ada musuh yang paling besar dari agama ini, dan itu adalah salah satu penyakit umat saat ini, yaitu penyakit bakhil. Maka qurban mencabut sikap bakhil ini, laa yadhulal jannah al bakhiil wa lau kaana ‘aabidan. Orang bakhil tidak akan masuk surga walaupun ia ahli ibadah. Jadi harus ada wujud nyata kalau ingin masuk surga, yaitu ibadah sosial. Maka hikmah yang ketiga dari ibadah qurban ini adalah ibadah sosial. Carefully terhadap para dhu’afa, bahkan kepada mustad’afin. Karena itu sudah selayaknya dalam pembagian korban, mereka dapat pembagian yang merata.

Islam itu ritual sosial. Shalat, Allahu akbar, kemudian salam. Apalagi puncaknya haji. Haji ini subhanallah, konferensi akbar umat Islam. Islam agama yang tidak terikat dengan teritorial geografis, rasis dan nasionalisme. Bahkan Islam agama yang tidak terikat waktu. Yang mengikat Islam Allah dan rasul-Nya. Inilah ajaran khilafah. Agama internasional yang dipersiapkan oleh Allah sebagai rahmatan lil alamin.

Kemudian ibadah qurban juga mengajarkan kekompakan umat Islam. Dari cara-cara menyembelih itu ada kekompakan. Kemudian diajarkan juga etika dalam penyembelihan. Itu adalah gladi resik atau latihan untuk jihad perang. Jadi jangan takut melihat darah. Siti Aisyah itu sebelumnya takut darah. Tapi diperintahkan oleh Rasulullah untuk melihat darah saat menyembelih hewan korban, maka Aisyah pun berani melihat darah. Bahkan di berbagai tempat orang-orang pun hadir saat penyembelihan itu. Ini agar umat ini punya nyali. Jangan ciut melihat darah. Dan ini juga sebagai latihan menyembelih. Jadi kalau nanti perang pun maka umat Islam siap. Subhanallah. Itu sekalian show of force, unjuk kekuatan umat Islam. Bayangkan kalau semua aghniya melakukan itu. Allahu akbar.

Esensi yang paling bisa diambil dari ibadah qurban itu adalah pengorbanan. Jadi nilai pengorbanan itu, seberapa besar pengorbanan kita kepada Allah, maka sebesar itu cinta kita kepada Allah. Makin besar pengorbanan kita, maka makin besar cinta Allah kepada kita. Dusta kalau kita cinta tanpa berkorban. Cinta tidak cukup mengatakan aku cinta padamu, tapi mana bukti cintamu padaku.

Haji itu salah satu bentuk cinta orang kepada Allah. Ia tinggalkan keluarganya. Jabatan memakai pakain ihram, ia siap mati. Nah orang yang berkorban itu membuktikan cintanya kepada Allah. Allahu akbar, walillahilhamdu. Jadi takbirnya itu benar. Allah Maha besar, segala puji bagi Allah. Jika ia membaca Allahu akbar walilahilhamdu kemudian berkorban maka ia benar takbirnya. Tapi kalau tidak berkorban maka ia cuma sebatas dzikiran.

Makanya, orang yang berdzikir dan berjihad itu tidak bisa dipisahkan. Orang berdzikir itu berjihad, orang berjihad itu berdzikir. Alquran surat al anfat ayat 45, :Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menghadapi musuh-musuh maka hadapi mereka dengan sabar dan berdzikirlah sebanyak-banyaknya , niscaya kamu akan menang. Ini kekuatan spiritual dan kekuatan material. Dua hal ini tak dapat dipisahkan. Walau pun dapat dibeda-bedakan tapi kedua-duanya menyambung menjadi energi jihad yang luar biasa.

Adapun di antara hikmah dari Idul Qurban adalah sebagai berikut;

Pertama, sebagai bukti nyata ekspresi syukur kita kepada Allah; ” Supaya mereka menyebut nama Allah SWT. atas apa yang Allah SWT. (telah) karuniakan kepada mereka itu (yakni) berupa binatang ternak… “ (QS al-Hajj, (22):34).

Kedua, bukti  kita sebagai hamba bertakwa ; ” Daging-daging qurban serta darahnya (tersebut) sekali-kali tidak bisa mencapai (keridhaan) Allah, (namun) tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya (meraihnya)…” (QS al-Hajj, (22) :37).

Ketiga, ter-akuinya (kita) sebagai umat baginda Rasulullah SAW ; ” Barang siapa (diantara kalian) yang mempunyai keluasan (harta yang dimilikinya) serta (kalian) tidak mau berqurban maka janganlah (kalian) mendekati tempat shalat kami “ (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, Ad Daruquthni, dan Al Baihaqi).

Keempat, meraih ampunan dosa ; ” …Fatimah, berdirilah serta (lihatlah) saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya, engkau diampuni (Oleh Allah SWT) pada saat awal tetesan darah (hewan qurban) itu dari dosa-dosa yang engkau lakukan (kerjakan)… “ (HR Abu Daud dan At-Tirmizi).

Kelima, berpahala sangat besar ; ”Pada setiap lembar bulunya (hewan qurban) itu kita tentu akan memperoleh satu kebaikan,” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Keenam, Kita akan mendapat kesaksian yang sangat indah dari hewan yang kita qurban kelak ; ” Sesungguhnya, dia (hewan qurban tersebut) akan datang ketika pada hari kiamat ….“ (HR At-Tirmidzi,  Ibnu Majah, serta Al-Hakim).

Demikian besar keutamaan dari ibadah qurban tersebut, wahai saudaraku ! Semoga Allah SWT. selalu memberi keluasan rezekiNya kepada kita supaya dapat memenuhi serta menerima amal ibadah qurban kita. Aamiin ya rabbal  ‘alamin!

 

Menjadi Manusia Ramadhan di Luar Ramadhan

Menjadi Manusia Ramadhan di Luar Ramadhan

Oleh : Emil Azman Sulthani (Bagian Peribadatan Masjid An-Nuur)

ANNUUR| Ramadhan 1439 H telah pergi dan berlalu. Apakah ada kesan dan pesan yang telah diambil oleh umat Islam terhadap tarbiyah Ramadhan ini? Kalau ya, bersyukur kita kepada Allah SWT, karena kita telah merespom Ramadhan secara baik dan cerdas, kalau tidak, berarti kita menjadi orang yang merugi, karena Ramadhan baru akan ada kembali setahun lagi.

Para ulama mengatakan bahwa berhasil atau tidaknya nilai-nilai Ramadhan ini bagi para shaaimin dan shaaimat adalah terlihat sesudah Ramadhan. Apakah ada bekas amalan Ramadhan yang masih dikerjakan di luar Ramadhan. Seperti keshalihan sosial, kejujuran, rasa empati, menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, berlomba-lomba dalam kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah SWT dan lain sebagainya. Jiwa

“… dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali …” demikian penggalan firman Allah SWT dalam QS An Nahl(16): 92. Allah SWT telah mensinyalir bahwa kebanyakan kita kaum Muslimin setelah berpuasa,   biasanya perilaku mereka akan kembali lagi seperti sebelum Ramadhan.

Tidak salah jika para ulama yang mengatakan bahwa berhasil tidaknya ibadah seseorang terlihat dari akhirnya atau sesudah ibadah tersebut berlangsung. Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi setelah puasa tidak terlihat dampak puasa mereka terhadap perilaku mereka yang telah mereka lakukan selama Ramadhan. Jadi tidak terlihat outcomenya yaitu dampak atau manfaat dari output dari puasa tersebut.

Dalam kitab Targhib wa Tarhib kumpulan hadits-hadits tentang puasa karya Ibnu Hajar Atsqalani, ada beberapa tip dan trik untuk mempertahankan nilai-nilai Ramadhan di luar Ramadhan.  Pertama, mewaspadai terhadap godaan syetan yang lebih besar lagi di luar Ramadhan. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW para syetan dibelenggu  selama Ramadhan, pintu-pintu syurga dibuka selebar-lebarnya dan pintu-pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Karena diri kita waktu Ramadhan dibentengi oleh puasa yang sedang kita lakukan. Kalau sudah tidak berpuasa lagi, akankah benteng ini masih ada? Kita sendirilah yang harus menjaganya secara istiqamah.

Kedua, meneruskan amalan ibadah selama Ramadhan di luar Ramadhan.  Seperti puasa-puasa  sunah, Senin Kamis, puasa Ayamul Bidh tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan hijriyah, puasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadhan, puasa nabi Daud sehari berpuasa sehari berbuka serta puasa-puasa sunah lainnya hari Arafah 9 Dzulhijjah, Asyura 10 Muharam dan lain sebagainya. Tilawatil Quran dengan program tahsin, tajwid dan tahfizh sampai kepada tafsir, tadabbur ayat-ayat Allah dan mengamalkannya. Bersedeqah berupa zakat, infaq, sadaqah dan waqah (ziswaf). Ta’lim dan halaqah ilmu yang intens selama Ramadhan hendaknya dilanjutkan. Begitu pula dengan shalat-shalat sunahnya seperti Rawatib dan shalat sunnah lainnya. Amalan-amalan ini seharusnya dilakukan secara mudawwamah, ajeg terus menerus serta istiqamah dari waktu ke waktu.

Ketiga jangan hanya menjadi hamba Ramadhan , tetapi jadilah hamba Allah. Artinya sama perbuatan amalnya baik di Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Kalau hanya menjadi hamba Ramadhan alangkah ruginya kita karena ada sebelas bulan lagi di luar Ramadhan. Malahan para ulama salaf sudah memulai amalan-amalan yang berkaitan dengan Ramadhan, sebelas bulan sebelum Ramadhan. Inilah orang-orang yang cerdas di mata Allah SWT.

Keempat selalu berdoa  semoga sebelas bulan ke depan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan tahun mendatang. Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk menjadi umat yang solutif. Menjadi umat Ramadhan di luar Ramadhan. Bermohon dan berdoa kita kepada Allah SWT supaya kita orang-orang yang beriman dan bertaqwa ini, secara cerdas dan bersemangat spiritual untuk dapat melanjut kan amalan Ramadhan di luar Ramadhan.  Dengan tetap berdoa, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW “Ya  Tuhan yang memiliki hati kami, tetapkanlah hati kami atas agamaMu dan selalu taat kepadaMu. Aamiin yaa mujiibas saailiin. Selamat Hari Raya Idul Fithri 1 Syawal 1439 H, semoga puasa dan seluruh amal kita diterima Allah SWT. Wallaahu a‘lam bishshawaab.[]

 

Menghindari Sifat Jahiliyah

Menghindari Sifat Jahiliyah

ANNUUR| Karakter kejahiliahan ternyata masih nampak nyata di zaman modern ini. 14 abad lalu, Rasulullah sudah mennginfokan bahwa ada sifat-sifat jahiliah yang umat Islam masih melakukan hingga sekarang.

Pengajian Ahad, 22 Juli 2018 setelah Shubuh disampaikan oleh Ustadz Yusuf Hisban Faisa dengan tema ‘Tanda-tanda dan sifat-sifat jahiliyah’.

Ustadz menjelaskan  bahwa umat Islam saat ini masih banyak yang mempraktikkan layaknya orang-orang jahiliyah tempo dulu, ada empat karaktersitik jahiliyah yang orang Isam masih melakukan sampai sekarang. “Apa yang diprediksi Rasulullah tepat dan sekarang terjadi di masyarakat Islam,” katanya.

Pertama, Bangga dengan keturunan. Saat ini masih banyak orang yang bangga dengan keturunannya padahal ini budaya jahiliyah. Dalam Islam yang paling mulia adalah ketaqwaannya dan bukan karena keturunannya. “Kebanggaan terhadap kesukuan atau kedaerahan juga bagian dari kejahiliyahan. Akiabatnya jika bangga dengan keturunan akan hilang alwalak dan albarak,” tuturnya.

Kedua, Menghina nashab. Memberikan kejelekan terhadap nashab tertentu, stigmatisasi ini bertentangangan dengan ajaran Islam. Misalnya orang Padang dicap pelit, orang Sunda dicap matre, Madura dicap kasar dan lain sebagaianya. “Tidak boleh kita menghubungkan karakter seseorang dengan nashabnya,” ujarnya.

Ketiga, Meminta sesuatu dengan perbintangan atau zodiak. Menghubungkan tanggal lahir dengan kegiatannya merupakan tradisi jahiliyah. Padahal yang mengatur hidup kita adalah Allah. Hidup kita diatur oleh taqdir Allah.

Keempat, Meratapi orang yang telah meninggal. Dalam Islam meronta-ronta karena kehilangan orang yang dicintai bagian dari sifat jahilliyah. Dengan air mata sudah cukup untuk menunjukan kecntaan kita ditinggal orang yang dicinta. Jadi hanya mengharap akan ridha Allah semata.

Jahiliyah itu keadaan di mana seseorang belum mengenal nilai-nilai Islam. Sekarang peradaban tidak bertuhan karena yang didewa-dewakan adalah materi, jabatan dan popularitas. Inilah jahiliyah modern. Semua itu terjadi karen merasa cukup dan tidak perlu hidayah dari Allah. Mereka beranggapa dengan akalnya bisa membimbingnya, sehingga hidupnya semau sendiri.[]

 

22 Ramadhan, UAS akan Ceramah di Masjid An-Nuur

22 Ramadhan, UAS akan Ceramah di Masjid An-Nuur

ANNUUR| Jakarta–Tanggal 22 Ramadhan 1439 atau 7 Juni 2018, setelah shalat Subuh berjamaah, Ustadz Abdul Somad akan mengisi ceramah di Masjid An-Nuur Kalimalang.
Kesediaan ini langsung disampaikan oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham kepada pengurus DKM Masjid An-Nuur saat bersilaturahim ke kediaman Ustadz Arifin di Sentul, Bogor beberapa waktu lalu.
Kehadiran Ustadz Abdul Somad ini nantinya bisa menyemarakkan pengajian yang digelar Masjid An-Nuur terutama di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. [FR]

Mengenal Sirah Nabawi Tingkatkan Keimanan

Mengenal Sirah Nabawi Tingkatkan Keimanan

MASJIDANNUUR| Mengenal sejarah Nabi Muhammad SAW akan semakin menambah keimanan kita. Kecintaan kita kepada Rasulullah sebagai utusan Tuhan semakin meningkatkan amal kita dalam mengerjakan ibadah sunnah.

Pengajian yang disampaikan oleh Ustadz H. Kirman Wibowo di Masjid An-Nuur pada Ahad, 21 Januari 2018 mengambil tema Meneladani Rasulullah dengan cara mengenal lebih dekat lagi.

“Mengenal rahasia kerasulan Nabi Muhammad dengan maksud lebih meyakinkan kita menjalankan sunnahnya, tujuannya agar di akhirat nanti  Nabi memberikan syafaat kepada kita,” ungkapnya.

Menurut Ustadz Kirman, ada empat hal tahapan mengenal Rasulullah, yaitu masa pra penciptaan Muhammad, masa pra kelahiran Muhammad, masa kelahiran Muhammad dan masa pra Kenabian.

Pra penciptaan Nabi Muhammad,bahwa dalam surah al-A’raf : 143, “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

Ada umat yang bisa memberi dan menerima syafaat, umat itu bisa menebus dosanya melalui sholat, umat terjaga dari kesesatan, umat itu bersuci diri dengan debu dan air, umat itu niat baik sudah dapat pahala kebaikan satu. Umat itu bisa menerima dan memberi sodakoh dan 70.000 masuk surga tanpa hisab.

Nabi Musa saat itu meminta agar umat yag 70 ribu itu adalah umat dari Nabi Musa, tapi Allah mengatakan bahwa itu untuk umat Nabi Muhammad. Ini pra penciptaan, Allah telah tunjukan kepada Musa atas sosok Rasul-Nya.

Kedua, pra kelahiran, dalam surah Al-Imran: 81, Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Allah telah menceritakan kepada para nabi bahwa akan datang seorang rasul dan para nabi mengimaminya. Padahal Nabi Muhammad saat itu belum lahir.

Ketiga, saat kelahiran Nabi Muhammad. Lahir pada senin Rabiul awal musim bunga. Hari hijrah, menerima wahyu perdana, dan wafatnya pun hari Senin.

Keempat pra kenabian, sebelum jadi nabi, Allah jadikan nabi sebagai anak yatim tapi dilindungi Allah. Yatim, miskin, ragu tapi semua itu dilindungi Allah. Bahkan dada muhammad dibersihkan dari sifat kehewanan.

Kelima, masa kenabian. Diusia 40 tahun Rasulullah mendapatkan surat perintah dari Allah untuk dididik di Gua Hira. Datanglah wahyu bahwa dia sebagai utusan Allah. Kerasulan Muhammad untuk seluruh umat. Usia 50 tahun, pamannya yang mengasuhnya wafat. Umur 51 tahun istri khadijah meninggal, lalu Allah hibur dengan dipanggil menjalani Isra Miraj. Usia ke-52 hijrah ke Madinah dan disambut oleh Anshor. Usia 63 tahun, Nabi Muhammad dipanggil Allah.

“Mengenal Rasulullah mendorong kita untuk lebih yakin dan membiasakan diri secara istiqomah mengerjakan sunnahnya. Mari yang masih mampu puasa sunnah, shalat sunnah, dan lain sebagainya untuk lebih ditingkatkan lagi. Sangat indah sunnah rasul untuk dikerjakan,” tuturnya.

 

 

 

 

 

Hidup Berorientasi Akhirat

Hidup Berorientasi Akhirat

MASJIDANNUUR| Dunia hanya tempat untuk mampir menuju akhirat yang kekal. Maka merugi bagi manusia yang tidak menyiapkan dirinya untuk kehidupan di akhirat. Akhirat harus menjadi orientsi hidup umat Islam, dengan tidak mengabaikan kehidupan di dunia.

Pengajian pekanan pada Ahad, 28 Januari 2018 disampaikan oleh Ustadz H Masadi Sulthani mengupas seputar orientasi kehidupan di dunia.

Banyak nikmat Allah yang diberikan Allah, ada nikmat yang paling tinggi nilainya dan derajatnya, yatu nikmat iman, islam dan ihsan. Kenapa tiga nikmat ini berharga yang tidak bisa dihargai dengan materi di dunia, karena nikmat itu yang akan kita bawa mati sebagai amal kebajikan kita. “Tiga nikmat ini harus kita jaga selama hidup di dunia,” tuturnya.

Dalam paparannya, Ustadz Masadi menjelaskan Surah al-Isra’ ayat 18-19 tentang ada dua kelompok manusia yang hanya ingin meminta kesengan dunia saja, ada juga yang meminta keduanya, dunia dan akhirat.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”

Jadi ada kehidupan dunia dan akhirat, ada yang ingin senang di dunia saja, maka Allah akan berikan, tapi ada yang orientasinya untuk kehidupan akhirat dengan cara memaksimalkan hidup di dunia untuk akhirat.

“Islam tidak mengharapkan kehidupan di dunia, dunia tidak boleh memukau sehingga lupa akhirat. Silahkan mencari kehidupan dunia tapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah,” jelasnya.

Ustadz Masadi juga menjelaskan, barangsiapa yang akhirat menjadi orientasinya, maka Allah akan memberikan kepadanya tiga hal. Pertama, Allah akan menjadikan kekayaannya ada di dalam hatinya. Kedua, Allah akan menghimpunkan sesuatu yang terserak untuk dia. Ketiga, Allah akan menjadikan dunia datang kepadanya dengan terpaksa. Ketiga hal ini dari hadis muttafaqun alaih.

“Mari dalam hidup ini orientasinya untuk akhirat, dunia akan datang sendiri jika kita berorientasi pada akhirat,” jelasnya.

Sementara itu, bila orientasinya dunia saja tanpa memikirkan akhirat, maka Allah akan berikan padanya tiga hal. Pertama, Allah akan menjadikan kefakiran dan tidak pernah puas dengan dunia. Kedua, Allah akan ceraiberaikan kesatuannya. Ketiga, dunia tidak akan ia dapatkan kecuali atas ketetapan Allah.

Untuk itu, menurut Ustadz Masadi ada beberapa hal agar kehidupan di dunia ini memiliki orientasi akhirat:

  1. Beristighfar, banyak orang salah memahami. Umumnya istighfar dilakukan setelah melakukan dosa. Padahal kita butuhkan setiap saat. Jadi jangan bersalah dulu baru istighfar.
  2. Memperkuat iman. Dengan cara menghadiri majelis taklim, membaca quran, membaca buku-buku keislaman agar wawasan tentang Islam lebih baik.
  3. Melaknsakan perkara yang wajib dan sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh.
  4. Memperbanyak mengingat kematian, dengan cara memotivasi diri untuk berbuat amal sholeh.
  5. Memperbanyak dzikir dan doa.

 

 

 

ALAMAT

Masjid An-Nuur Perumahan Permata Timur Curug Kalimalang Jakarta Timur 13450
Phone: (021) 86900849
Fax: (021) 86900877
Website: http://masjidannuur.com
Email: masjidannuur212@gmail.com

LOKASI MASJID