Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

headerphoto

Suara Emas Mengantarnya ke Istiqlal

Minggu, 5 September 2010 13:02:07

IMAM: Ustadz H Hasanudin Sinaga

Sinaga mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an hanya dalam tempo 2,5 tahun. Berkat hafalannya  ia mendapat amanah menjadi imam tetap di Masjid Istiqlal.  

 

Suaranya mirip Imam Masjidil Haram, Mekkah, Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais. Kesamaan suara dan kefasihan dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an inilah yang mengantarkan Drs. Hasanuddin Sinaga, MA menjadi imam tetap Masjid Istiqlal.

Untuk mendengarkan lantunan suara Sinaga, pembaca bisa berjamaah di Masjid Istiqlal setiap hari Ahad mulai dari shalat Dhuhur hingga shalat Subuh. Langgam maupun nada yang dikumandangkan pria kelahiran Tanjung Balai, 15 November 1970 ini memang mirip as-Sudais.

”Semua ini karena keberkahan dari Al-Qur’an,” ujarnya saat ditemui Majalah Gontor di kediamannya di Komplek Aria Putra, Ciputat, Tangerang beberapa waktu lalu.

Kemerduan suara Hasanuddin memang layak diacungi jempol. Suami dari Fatmawati ini pernah beberapa kali mengikuti kejuaraan tilawatil qur’an mulai tingkat nasional hingga internasional. Ketika masih menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), Jakarta, Sinaga beberapa kali mewakili DKI untuk kompetisi kejuaraan tahfidz Al-Qur’an di beberapa kota seperti Kendari, Pekanbaru, Bandung, dan Palu.

Sinaga juga pernah mewakili Indonesia untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Arab Saudi pada MTQ Internasional bidang tahfidz Al-Qur’an tahun 1996. Semua itu berkat kegigihannya sejak kecil menghafal Al-Qur’an. ”Alhamdulillah, pada usia 18 tahun saya sudah hafal Al-Qur’an,” tuturnya.

Menurut dosen Fakultas Usuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini, untuk menjadi seorang hafiz dibutuhkan semangat yang kuat. Ia mulai menghafal ketika sekolah dan mondok di Pondok Pesantren Darul Ulum, Kisaran, Sumatra Utara. ”Kalau pagi saya sekolah dan malamnya mengaji,” ujarnya.

Dulu setiap santri diwajibkan memilih satu ekstra kurikuler dengan fasilitas yang telah tersedia. Mereka yang mengambil bidang pertanian akan disediakan lahan pertanian, yang memilih elektronik akan disediakan alat-alat praktik dan yang memilih tahfidz akan digembleng dengan sistem berasrama.

Sinaga memilih program tahfiz karena terinspirasi oleh para santri yang tekun menghafal Al- Qur’an di sudut-sudut masjid. Al-Qur’an yang mereka gunakan berukuran kecil. Padahal zaman dulu Al-Qur’an seperti itu hanya bisa didapat dan dipesan dari jamaah haji yang kembali ke Tanah Air.

Karena iri dengan mereka, diam-diam Sinaga ikut menghafal meski memakai Al-Qur’an berukuran besar. ”Tidak terasa saya bisa menghapal 5 juz tanpa bimbingan siapapun,” ujarnya.

Suatu ketika, gerak-gerik Sinaga diketahui pengurus pondok, akhirnya pengurus menyarankan masuk ke program tahfiz Al-Qur’an. Dengan dibimbing oleh Ustadz Armawi Abdurrahman, hafalan Sinaga mulai terprogram dan terarah.

Dengan target tersebut tidak ada waktu luang bagi Sinaga. Hampir setiap pagi, siang dan malam ia gunakan untuk menambah hafalan. Berkat perjuangan dan kerja kerasnya, ia berhasil menghafal Al-Qur’an selama 2,5 tahun. ”Pada angkatan saya, hanya 4 orang yang lulus 30 juz termasuk saya,” kenangnya.

 

Berkah Al Quran

Hasanuddinsaya termasuk orang yang tidak muluk-muluk menentukan keinginan. Meskipun ia lulus dengan nilai baik dan memiliki kelebihan hafal Al-Qur’an, namun ia tidak berambisi melanjutan kuliah. Bisa lulus dan menghapal Al-Qur’an baginya merupakan karunia yang besar.

Namun ada semacam berkah tersendiri yang ia dapatkan. Saat perpisahan santri, kiainya, KH Usman Efendy bertanya kepadanya, ”Kemana nanti setelah lulus sekolah dan pesantren? Ia hanya menjawab, ”Saya sendiri tidak terlalu berambisi untuk kuliah. Bagi saya bisa menghapal Al-Qur’an merupakan kelebihan yang luar biasa,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu sang kiai hanya tersenyum. Lalu dikeluarkan sebuah kartu nama dan meminta agar Sinaga menghubunginya. ”Dulu dia murid saya. Kirimkan surat padanya lalu katakan maksudmu,” ujar kiai. Setelah mendapat pesan tersebut Hasanuddin lalu mengirimkan surat pada seseorang bernama Burhanuddin Pane, yang tinggal di Jakarta.

Mendapat kiriman surat dari santri yang cerdas ini, beberapa hari kemudian datang utusan untuk menjemput Sinaga. Di Jakarta, ia masuk kuliah di PTIQ dan kuliahnya dibiayai selama satu semester. Meskipun Burhanuddin mengatakan siap menanggung keperluan selama kuliah, namun ia memutuskan untuk tinggal di asrama. ”Demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah, saya mengajar ngaji di beberapa tempat,” kenangnya.

Karena terus mengembangkan bakat dan keterampilannya, Sinaga tidak hanya mengajar namun juga mengikuti perlombaan tilawatil Quran yang diadakan di dalam negeri dan mancanegara. Sampai suatu ketika ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 1997.

Latar belakang sejarah bisa menjadi salah satu imam rawatib di masjid terbesar se-Asia Tenggara ini juga karena perkenalannya dengan Syarifuddin Muhammad salah satu Qori internasional yang menjadi ketua Ikatan Persaudaraan Qari-Qariah, Hafidz-Hafidzah di Indonesia.

Saat itu Masjid Istiqlal terjadi kekosongan imam. Sarifuddin yang juga Wakil Imam Besar Masjid Istiqlal, saat itu meminta Sinaga untuk mengisi kekosongan imam. Akhirnya tawaran itu ia terima tahun 2006, ketika itu ia sudah menyelesaikan S2 nya dan menjadi dosen tetap di UIN Jakarta.

Di Masjid Istiqlal, Sinaga sering menjadi imam shalat Idul Fitri maupun Idul Adha. Di antara tujuh imam Masjid Istiqlal, ia memiliki ciri suara langgam Imam Masjidil Haram, Mekkah, Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais.

Selain di Masjid Istiqlal, Sinaga juga menjadi salah satu imam rawatib di Masjid Dian al-Mahri (Kubah Emas) Depok, Imam Shalat Malam di Masjid An-Nuur Jakarta Timur, dan sesekali menjadi imam di Masjid Istana Negara.  

 

 

[1]